NGANJUK – Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan arah kebijakan luar negeri Indonesia yang mengedepankan prinsip good neighbor policy atau bertetangga baik sebagai strategi menjaga stabilitas kawasan, termasuk di wilayah Laut Natuna Utara.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat peresmian Museum Marsinah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu, 16 Mei 2026.
Menurut Prabowo, kebijakan tersebut merupakan turunan dari politik luar negeri bebas aktif yang berakar pada konstitusi UUD 1945.
Baca Juga: Pangdam I/BB: 353 Koperasi Desa di Sumut Sudah Siap Jalan, Tambahan 2.030 Unit Dibangun Juli 2026 Ia menyebut Indonesia berupaya memperkuat hubungan dengan negara-negara tetangga melalui penyelesaian berbagai kesepakatan yang selama ini tertunda.
"Saya canangkan begitu saya jadi Presiden, politik luar negeri Indonesia adalah politik bebas aktif, nonblok, dan Indonesia ingin menjadi tetangga yang baik," kata Prabowo.
Ia mencontohkan perbaikan hubungan dengan Singapura, Vietnam, hingga Tiongkok yang disebut telah menghasilkan penyelesaian sejumlah perjanjian bilateral.
Prabowo juga mengklaim situasi di Natuna kini lebih stabil.
"Alhamdulillah, sekarang di Natuna tidak sering terjadi ribut," ujarnya.
Prabowo menambahkan, pendekatan diplomasi Indonesia tidak membedakan negara besar maupun kecil. Ia menegaskan seluruh mitra diperlakukan setara dalam hubungan internasional.
Ia menyinggung pengalamannya menerima Perdana Menteri Fiji di Istana Merdeka, yang menurutnya menunjukkan sikap penghormatan Indonesia terhadap negara kecil.
"Negara dia hanya satu juta orang, tetapi kita perlakukan sama dengan negara yang besar. Itulah Indonesia," kata Prabowo.
Dalam pidatonya, Prabowo juga menyebut politik luar negeri Indonesia merupakan warisan pemikiran para pendiri bangsa, termasuk Sukarno, Mohammad Hatta, dan Sutan Sjahrir.