JAKARTA - Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menyoroti fenomena yang ia sebut sebagai "inflasi pengamat" di Indonesia. Ia menilai banyak pengamat muncul tanpa didukung latar belakang keilmuan yang relevan.
"Sekarang ini ada satu fenomena, yaitu inflasi pengamat. Jadi banyak sekali pengamat," kata Teddy di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Sabtu (11/4/2026).
Menurut Teddy, sejumlah pengamat kerap menyampaikan analisis yang tidak berbasis data akurat dan tidak sesuai fakta di lapangan.
Baca Juga: Satgas PKH Setor Rp11,42 Triliun ke Negara, DPD Sebut Capaian Sangat Fenomenal "Ada pengamat beras tapi background-nya bukan di situ, ada pengamat militer, pengamat luar negeri, dan datanya tidak sesuai fakta," ujarnya.
Teddy juga menyebut sebagian pengamat tersebut telah lama aktif membentuk opini publik, bahkan sejak sebelum Prabowo Subianto menjabat sebagai presiden.
"Pengamat-pengamat itu sejak dulu sudah berusaha mempengaruhi warga dan membentuk opini publik," lanjutnya.
Meski demikian, Teddy menegaskan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Prabowo tetap tinggi. Ia menyebut lebih dari 96 juta warga lebih percaya kepada Presiden dibandingkan pandangan para pengamat.
"Faktanya lebih dari 96 juta warga lebih percaya Pak Prabowo, tidak percaya mereka. Itu bukti nyata kepercayaan publik," tegasnya.
Teddy menambahkan, kritik tetap diperbolehkan dalam demokrasi. Namun ia mengingatkan agar pernyataan yang disampaikan tidak menimbulkan keresahan di masyarakat.
"Silakan beri kritik, tapi jangan sampai memberi pernyataan yang membuat orang cemas terhadap negeri ini," ujarnya.
Ia juga memastikan kondisi nasional saat ini dalam keadaan stabil dan terkendali. Teddy mengajak masyarakat untuk tetap optimistis dan menjaga harapan positif terhadap masa depan Indonesia.*
(ds/dh)