YOGYAKARTA — Kedatangan ulama sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Al Bahjah, Cirebon, Yahya Zainul Ma'arif alias Buya Yahya, ke Istana Negara untuk menemui Presiden Prabowo Subianto memicu reaksi Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto.
Buya Yahya mengajak masyarakat mendoakan Presiden Prabowo Subianto, karena menjadi pemimpin negara bukanlah tugas ringan.
"Yang terpenting doa. Karena jadi presiden tidak gampang, berat. Kita harus banyak mendoakan pemimpin kita, bagaimana mereka bisa sukses dengan menjalankan tugasnya," ujar Buya Yahya usai buka puasa bersama, Kamis (5/3/2026).
Baca Juga: Ajak Tingkatkan Kepedulian Sosial, Wakil Wali Kota Medan Serahkan Santunan Anak Yatim Saat Buka Puasa Bersama Gerindra Sumut Namun, Tiyo menilai pernyataan Buya Yahya tersebut perlu dikritisi.
Menurutnya, Prabowo sendiri yang berkali-kali menawarkan diri menjadi presiden, sehingga wajar jika rakyat merasa "mengemis suara" untuk mendapatkannya.
Tiyo juga menyinggung aksi kampanye Prabowo pada 2024 lalu yang menggunakan strategi berjoget dengan julukan "gemoy" untuk meraih simpati rakyat.
"Jadi presiden itu berat. Maaf, Buya, sejak awal rakyat tidak pernah meminta Bapak Prabowo jadi presiden. Beliau sendiri yang berkali-kali menawarkan diri sambil ngemis suara rakyat," tulis Tiyo Ardianto melalui akun media sosialnya.
Ia menambahkan, rakyat Indonesia terkenal mudah tersentuh rasa iba, dan hal ini tercermin dalam dukungan yang diberikan meski sebelumnya sempat menolak.
Selain menyoroti proses politik Prabowo, Tiyo juga menyinggung campur tangan politik yang diperlukan untuk memastikan Gibran Rakabuming Raka lolos sebagai calon wakil presiden, yang menurutnya menambah kompleksitas "beban" kepemimpinan.
"Jadi Presiden itu mungkin berat, tapi, ya, lebih berat lagi jadi WNI, to?" tambahnya.
Di sisi lain, Buya Yahya menekankan nilai kebaikan dan kedamaian, terutama di bulan suci Ramadan.