JAKARTA – Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla (JK) menyampaikan kesedihan mendalam atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada 28 Februari 2026.
JK menilai serangan tersebut sangat memprihatinkan karena terjadi di tengah tahap perundingan antara Iran dan AS.
"Dari segi etik, kalau sedang berunding, jangan menyerang. Ini keadaan yang sangat memprihatinkan," ujar JK kepada wartawan di kediamannya, Jakarta Selatan, Minggu (1/3/2026).
Baca Juga: Kerja Sama B2B: Indonesia Fasilitasi Impor Pertanian AS Rp75 Triliun Tanpa Sentuhan APBN Meskipun mengakui adanya pergolakan politik di Iran serta demonstrasi menuntut reformasi, JK menekankan bahwa kematian Khamenei tetap menjadi hal yang sangat disayangkan.
Menurutnya, ada dua kelompok di Iran—pendukung monarki Pahlavi dan kelompok reformasi—yang sebagian merasa lega atas wafatnya Khamenei, namun sebagai mayoritas umat Islam di Indonesia, JK tetap berduka.
"Kita berupaya mendoakan agar situasi ini segera berhenti, meski mendamaikan konflik di sana tentu sulit dilakukan," kata JK.
Serangan gabungan AS-Israel menargetkan fasilitas komando Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), lokasi peluncuran rudal dan drone, lapangan terbang militer, serta sistem pertahanan udara Iran.
Bulan Sabit Merah Iran melaporkan lebih dari 200 orang tewas dan hampir 750 orang luka-luka akibat serangan yang menghantam 24 dari 31 provinsi di Iran, termasuk korban sipil di sebuah sekolah perempuan di Iran selatan.
IDF mengklaim telah menyerang lebih dari 500 target, termasuk peluncur rudal dan sistem pertahanan udara, menjadikan operasi ini sebagai penerbangan militer terbesar dalam sejarah Israel.
JK mengingatkan bahwa sebagai negara mayoritas Muslim, Indonesia perlu menaruh perhatian dan berdoa untuk perdamaian dunia, khususnya di bulan Ramadan, agar eskalasi konflik tidak meluas.*
(d/dh)