JAKARTA – Anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin, menilai niat Presiden Prabowo Subianto untuk menjadi fasilitator konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran merupakan langkah yang sejalan dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif dan amanat konstitusi untuk menjaga perdamaian dunia.
Pernyataan ini disampaikan TB Hasanuddin merespons kesiapannya pemerintah Indonesia menjadi fasilitator dialog di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, menyusul konfirmasi serangan gabungan AS dan Israel ke Iran.
"Niat Presiden menjadi fasilitator konflik ke Teheran sudah sesuai prinsip bebas aktif dalam menjaga perdamaian dunia. Akan tetapi, langkah tersebut juga membutuhkan kalkulasi yang matang," kata TB Hasanuddin, Minggu (1/3/2026).
Baca Juga: Isfahan Berkabung: Ribuan Warga Iran Beri Penghormatan Terakhir untuk Khamenei Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) itu menekankan tiga pertimbangan utama.
Pertama, peran fasilitator harus diterima oleh kedua belah pihak yang berselisih. Indonesia saat ini tergabung dalam Board of Peace (BoP) bentukan Presiden AS Donald Trump, yang membuat posisi Indonesia lebih condong ke poros AS dan Israel sehingga mungkin sulit diterima Iran.
Kedua, fasilitator konflik memerlukan komitmen serius. TB Hasanuddin mempertanyakan kesiapan Presiden Prabowo maupun Menteri Luar Negeri Sugiono untuk meluangkan waktu, tenaga, dan anggaran dalam memfasilitasi dialog yang berkelanjutan.
Ketiga, kejelasan terkait kepentingan nasional dan kalkulasi strategis Indonesia harus menjadi pertimbangan utama. TB Hasanuddin menekankan bahwa setiap langkah diplomasi besar harus jelas manfaatnya bagi kepentingan nasional.
Selain itu, TB Hasanuddin berpandangan bahwa peran Indonesia sebagai fasilitator lebih relevan jika dilakukan di kawasan ASEAN, seperti konflik perbatasan Thailand–Kamboja, karena lebih terkait langsung dengan stabilitas dan kepentingan nasional Indonesia.
"ASEAN adalah pekarangan kita. Kawasan ini harus damai dan stabil. Itu lebih langsung berkaitan dengan kepentingan nasional Indonesia," tegasnya.*
(k/dh)