TAPANULI SELATAN – Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan Pasaribu, didesak segera mengevaluasi kinerja Plt Kepala Dinas Pendidikan terkait penggunaan anggaran sebesar Rp428 juta untuk Pelatihan Bakal Calon Kepala Sekolah (BCKS) di tahun 2025.
Anggaran yang besar ini dipertanyakan publik karena efektivitasnya dinilai kurang maksimal.
Aktivis LSM Gempar sekaligus Ketua Prabowo Mania 08 Padangsidimpuan, Saparuddin Hasibuan, menilai program pelatihan tersebut belum menunjukkan hasil nyata dalam mempersiapkan kepala sekolah yang kompeten dan profesional.
Baca Juga: PSI Bela MBG: Anak-anak Bisa Kelaparan Jika Program Ini Dihentikan "Harapannya, Pak Gus Irawan dapat mencopot oknum-oknum pejabat di lingkungan Disdik bila terbukti tidak bekerja secara profesional dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan di Tapsel," tegas Sapar, Kamis (26/2/2026).
Saparuddin menekankan, pertanyaan publik muncul setelah adanya pemberitaan mengenai dugaan pungli terhadap guru honorer di SMP N 1 Sayur Matinggi.
Dugaan tersebut menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara tujuan pelatihan kepala sekolah dan praktik nyata di lapangan.
"Inilah dasar saya mempertanyakan anggaran sebesar Rp428 juta. Dana sebesar itu seharusnya berbanding lurus dengan sasaran, yakni mencetak kepala sekolah yang memiliki kompetensi dan integritas tinggi dalam memimpin dan mengelola sekolah," lanjutnya.
Meskipun demikian, Saparuddin mengapresiasi capaian Pemkab Tapsel yang baru-baru ini meraih predikat B dalam Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) tahun 2025, naik dari predikat CC enam tahun terakhir.
Menurutnya, prestasi ini harus diikuti dengan pengawasan dan evaluasi yang konsisten terhadap implementasi program pendidikan di lapangan.
Evaluasi kinerja Plt Kadisdik dan seluruh kepala sekolah di Tapsel dinilai penting untuk memastikan pencapaian target program pendidikan, kualitas layanan, pengembangan SDM, manajemen anggaran, serta hubungan dengan stakeholder berjalan optimal.
Saparuddin Hasibuan menegaskan, "Kepemimpinan yang efektif adalah kunci kualitas pendidikan. Jangan sampai prestasi SAKIP hanya di atas kertas, sementara praktik di lapangan tidak menunjukkan hasil yang sepadan."*
(dh)