JAKARTA – Ketua Umum DPP Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, menilai demokrasi di Indonesia saat ini telah kebablasan hingga merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pernyataan itu disampaikannya saat membuka acara Training of Trainers Sosialisasi 4 Pilar MPR di kantor DPP Partai Golkar, Jakarta Barat, Jumat (6/2/2026).
"Menurut saya demokrasi ini kebablasan. Akhirnya merusak sendi-sendi kehidupan dalam berbangsa dan bernegara," ujar Bahlil.
Baca Juga: Gerindra Serukan Prabowo Lanjutkan Kepemimpinan Dua Periode! Ia mencontohkan keributan yang muncul pasca pemilihan kepala daerah (pilkada) di tingkat kampung.
"Tadinya kita duduk bicara di kampung bisa, sekarang habis pilkada ribut orang di pinggir-pinggir," kata dia.
Bahlil juga mengingatkan sejarah panjang bangsa Indonesia yang pernah "dihajar" oleh politik devide et impera selama 350 tahun.
Menurutnya, idealnya demokrasi di Indonesia harus merujuk pada Pancasila, bukan sekadar meniru model demokrasi Eropa atau Amerika.
"Demokrasi kita itu harusnya idealnya adalah demokrasi yang merujuk pada ideologi negara," tegasnya.
Ia menambahkan bahwa Partai Golkar didirikan untuk mempertahankan ideologi Pancasila.
Bahlil menekankan pentingnya menjaga kebhinekaan, yang dianggapnya sebagai aset terbesar bangsa.
Menurutnya, sila keempat Pancasila, "Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan," harus menjadi pedoman dalam praktik demokrasi Indonesia.
Acara tersebut dihadiri oleh kader-kader Partai Golkar yang mendapat pelatihan terkait sosialisasi empat pilar MPR, dengan tujuan memperkuat pemahaman ideologi negara di kalangan anggota partai.*