JAKARTA – Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), menegaskan kesiapannya bekerja keras dan "mati-matian" untuk Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dalam Rakernas PSI yang digelar di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (31/1/2026).
Pernyataan itu menarik perhatian pakar politik, yang menilai Jokowi menunjukkan gelagat politik terselubung di balik dukungannya.
Baca Juga: Prabowo Siapkan Evaluasi Kinerja 2025 dalam Rakornas Pusat–Daerah 2026 yang Dihadiri 4.487 Peserta Peneliti Politika Research & Consulting, Nurul Fatta, menafsirkan pernyataan Jokowi sebagai tanda kekhawatiran.
"Justru saya melihat teriakan Jokowi dalam pidatonya… adalah teriakan orang yang sedang terancam, cemas, dan penuh kekhawatiran," kata Fatta, Minggu (1/2/2026).
Menurut Fatta, kekhawatiran Jokowi terkait posisi putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka, dalam kancah politik.
Jokowi disebut ingin memastikan opsi politik tetap terbuka melalui PSI jika Gibran tidak lagi mendampingi Presiden Prabowo Subianto."PSI menjadi kendaraan alternatif jika Gibran tak diusung lagi.
Jokowi gelagatnya ingin menyampaikan, biarpun Gibran tidak mendampingi Prabowo, dia tetap punya jalur politik untuk maju sebagai capres melalui PSI," kata Fatta.
Lebih jauh, Fatta menilai pernyataan Jokowi juga merupakan bentuk gertakan politik. Menurutnya, orang yang merasa terancam cenderung mengirim pesan kuat kepada lawan politiknya.
"Gelagat Jokowi di sini sedang memberikan peringatan sekaligus gertakan politik," ujarnya.
Dalam pidatonya, Jokowi menekankan kesiapan turun langsung ke seluruh provinsi, kabupaten, bahkan kecamatan, untuk mendukung PSI.
Ia meminta jajaran pengurus partai bekerja militan dan menegaskan komitmen pribadinya untuk bekerja habis-habisan.