JAKARTA - Sejumlah kader Partai NasDem memilih bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
PSI menilai fenomena ini merupakan efek dari sosok Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), sekaligus keyakinan pada nilai-nilai perjuangan politik yang dijalankan Presiden.
Direktur Reformasi Birokrasi DPP PSI, Ariyo Bimmo, mengatakan kepada wartawan, Rabu (28/1/2026), keputusan kader NasDem beralih ke PSI merupakan pilihan logis secara politik.
Baca Juga: Kerugian Negara Rp2,1 Miliar, 3 Pejabat dan Rekanan Tersandung Dugaan Korupsi Proyek Torjam "Sederhananya begini: mereka bergabung ke PSI karena efek Jokowi dan keyakinan pada nilai-nilai perjuangan Pak Jokowi – politik kerja nyata, keberpihakan pada rakyat, dan pendekatan yang rasional. Karena itu, bergabung ke PSI menjadi pilihan yang logis dan sah secara politik," ujar Ariyo.
Ariyo menambahkan, keterbukaan Jokowi mendukung PSI secara penuh menjadi faktor tambahan yang memperkuat keyakinan para kader.
Fenomena ini pun dikenal dengan istilah 'Jokowi effect' dalam politik kontemporer.
Tak hanya itu, Ketua DPP PSI, Bestari Barus, menilai sejumlah kader NasDem juga terdorong oleh kehadiran tokoh senior Ahmad Ali di PSI.
"Kalau memang terlihat, saya tidak menafikan bahwa NasDem cukup banyak ya, mayoritas lah. Salah satu penariknya mungkin dengan bergabungnya Pak Ahmad Ali ke PSI, yang kemudian menginspirasi banyak pihak," kata Bestari.
Menanggapi hal ini, Wakil Ketua Umum NasDem, Saan Mustopa, menegaskan pihaknya menghormati keputusan kader yang pindah partai.
"NasDem tetap memberikan kenyamanan bagi seluruh kader. Tapi kalau memang mereka punya pilihan lain dengan berbagai alasan, tentu kita juga nggak bisa menahan, tapi kita tetap menghargai pilihan," ujarnya.
Fenomena kader pindah partai ini mencerminkan dinamika politik menjelang pemilihan umum, di mana loyalitas partai dan pengaruh tokoh nasional menjadi faktor penting dalam penentuan afiliasi politik.*