MEDAN — Puluhan kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Kota Medan menggelar aksi unjuk rasa menolak penetapan Boydo Panjaitan dan Fuad Akbar sebagai sekretaris dan bendahara Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDIP Medan periode 2025–2030.
Aksi tersebut digelar di depan Kantor DPD PDIP Sumatera Utara, Jalan Djamin Ginting, Medan, Jumat, 9 Januari 2026.
Para pengunjuk rasa menuding pelantikan kedua pengurus itu tidak sah dan dilakukan tanpa dasar yang jelas.
Baca Juga: Kapolri Pimpin Panen Raya Jagung Serentak, Polda Sumut Ikut Dukung Program Ketahanan Pangan Boydo dan Fuad disebut tidak layak menduduki jabatan struktural partai karena diduga terafiliasi dengan Matahari Pagi Indonesia (MPI), organisasi yang disebut memiliki keterkaitan dengan partai politik lain.
Sekretaris PAC PDIP Medan Tuntungan, Roges Ginting, mengatakan pelantikan tersebut patut diduga ilegal karena tidak disertai surat keputusan dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDIP.
"Kami mensinyalir pelantikan ini dipaksakan. Tidak ada SK DPP yang menjadi dasar," kata Roges dalam orasinya.
Selain mempersoalkan penunjukan sekretaris dan bendahara, massa juga memprotes tidak dimasukkannya nama Robi Barus dan David Roni Sinaga dalam struktur kepengurusan DPC.
Padahal, menurut mereka, kedua nama tersebut telah ditetapkan DPP untuk mendampingi Ketua DPC PDIP Medan terpilih, Hasyim.
Ketua PAC PDIP Medan Baru, Jumbo Ginting, menyatakan kekecewaannya terhadap proses pelantikan yang dinilai mengabaikan keputusan partai di tingkat pusat.
Ia meminta Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri turun tangan dan menginstruksikan pelaksanaan konferensi cabang ulang.
"Kami mohon perhatian Ibu Ketua Umum. Ini suara kader di bawah. Kami meminta konfercab ulang DPC PDIP Medan," ujar Jumbo.
Pernyataan serupa disampaikan Wakil Ketua PAC Medan Barat Tongam Manullang dan Ketua PAC Medan Marelan Nurmahadi.