JAKARTA — Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, mengingat tiga kali kekalahannya dalam pemilihan presiden (Pilpres) 2009, 2014, dan 2019, namun menegaskan hal tersebut tidak menjadi masalah.
Menurut Prabowo, persaingan politik memang keras dan ketat, sehingga kekalahan adalah bagian dari proses.
"Kalau masuk ke dalam kancah politik pasti persaingan sangat ketat. Keras, ketat, dan tidak ada masalah. Masuk lapangan bola pun persaingan sangat keras, mana ada orang yang mau kalah," ujar Prabowo saat memberikan sambutan pada Perayaan Natal Nasional 2025, di Jakarta, Senin (5/1/2026).
Baca Juga: China Desak AS Bebaskan Maduro, Hentikan Upaya Gulingkan Rezim Venezuela Ia menekankan, dalam menghadapi kekalahan maupun kritik, seseorang tidak boleh menyimpan sakit hati, dendam, atau kebencian.
Prabowo menyebutkan bahwa sikap pemaaf merupakan ajaran yang dijunjung tinggi oleh seluruh agama, termasuk ajaran Nasrani yang diambil dari khotbah Yesus dalam Matius 5:39.
"Kalau pipi kiri kita ditempeleng, kita harus kasih pipi kanan. Itu ajaran yang saya pelajari waktu sekolah Kristen. Jangan-jangan saya mengerti cerita-cerita di Bible lebih dari saudara-saudara," katanya.
Prabowo juga menegaskan, dalam kehidupan pribadi maupun berbangsa, dirinya lebih memilih merangkul, membangun persatuan, dan melihat sisi kebaikan daripada mempertajam perbedaan.
Ia menambahkan bahwa sikap memaafkan kerap mendapat respons dari anggota keluarganya, yang terkadang heran mengapa ia selalu memaafkan kesalahan masa lalu.
"Kesalahan seseorang tidak bisa terus-menerus dijadikan dasar penilaian tanpa melihat perubahan dan konteks waktu. Keadaan sekarang menuntut kita bersatu dan bekerja sama," kata Prabowo.*
(k/dh)