MEDAN – Pergantian Musa Rajekshah atau Ijeck dari posisi Ketua DPD Partai Golkar Sumatera Utara (Sumut) menjelang Musyawarah Daerah (Musda) memunculkan proyeksi penurunan suara partai di provinsi tersebut.
Tokoh masyarakat, Safwan Khayat, menilai keputusan ini berisiko merugikan Golkar karena kepopuleran Ijeck dianggap menjadi salah satu faktor utama perolehan suara pada pemilu sebelumnya.
"Kalau kita lihat, Golkar salah langkah dengan mencopot Ijeck dari jabatan DPD Sumut," ujar Safwan Khayat saat ditemui, Jumat (2/1/2026).
Baca Juga: Masa Transisi Pascabencana Sumut, Gubernur Pastikan Evakuasi Korban Tetap Dilakukan Menurut Safwan, masyarakat Sumut lebih simpati kepada Ijeck sebagai tokoh dan figur kepemimpinan, bukan semata kepada partai.
Selama menjabat, Ijeck disebut telah membesarkan Golkar di Sumut melalui kerja nyata bagi masyarakat, termasuk bantuan di masa bencana maupun program sosial lainnya.
"Dukungan masyarakat kepada Golkar muncul karena adanya Ijeck. Beliau benar-benar berbuat untuk rakyat, sehingga banyak yang merasa terbantu," imbuhnya.
Pergantian dan Kontroversi Politik
DPP Golkar menunjuk Ahmad Doli Kurnia Tandjung sebagai Plt Ketua DPD Sumut, menggantikan Ijeck.
Safwan menilai langkah ini merupakan keputusan yang keliru dan bisa berdampak negatif terhadap elektabilitas partai.
Ia bahkan menyarankan seharusnya fokus pengawasan adalah Ketua Umum Golkar, Bahlil Lahadalia, yang dianggap menimbulkan sejumlah kontroversi internal.
"Jika langkah ini tidak dikoreksi, saya yakin suara Golkar di Sumut akan menurun drastis," tegas Safwan.
Pergantian ini diprediksi akan menjadi sorotan dalam Musda Golkar Sumut mendatang, mengingat pengaruh Ijeck yang dianggap strategis dalam menarik dukungan pemilih.*