KEDIRI — Polemik undangan Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf, terhadap akademisi pro-Zionis, Peter Berkowitz, berakhir dengan permintaan maaf dan kesepakatan untuk menjaga keutuhan organisasi Nahdlatul Ulama (NU).
Katib Aam PBNU, Prof. Moh Nuh, menyampaikan Rais Aam dan Wakil Rais Aam telah menerima permohonan maaf Gus Yahya atas sikapnya yang dianggap kurang cermat dan ceroboh.
"Semangat yang dibangun adalah kebersamaan dan menjaga keutuhan organisasi," kata Nuh, Kamis (25/12), usai forum Konsultasi Syuriyah dengan Mustasyar di Lirboyo.
Baca Juga: Rukyatul Hilal PBNU: Awal Bulan Rajab 1447 H Mulai 22 Desember Polemik ini sempat memunculkan permintaan pemberhentian Gus Yahya, tercatat dalam risalah Rapat Harian Syuriyah PBNU yang ditandatangani Rais Aam, KH Miftachul Akhyar.
Dalam risalah tersebut, diundangnya Berkowitz dalam kegiatan Akademi Kepemimpinan Nasional NU (AKN NU) pada 15 Agustus 2025 disebut melanggar nilai dan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah An Nahdliyah serta bertentangan dengan Muqaddimah Qanun Asasi NU.
Meski demikian, forum hari ini menegaskan penyelesaian masalah secara arif, sesuai tradisi NU yang menekankan akhlak dan tabayun.
Rais Aam dan Gus Yahya sepakat untuk segera menggelar Muktamar PBNU.
Kedua pihak juga akan membentuk kepanitiaan bersama untuk menentukan waktu, tempat, dan teknis pelaksanaan muktamar.
Moh Nuh menilai hasil pertemuan ini sebagai langkah penting menjaga ketertiban organisasi dan keutuhan jam'iyah NU.
"Ada kesepahaman bersama untuk melangkah ke depan secara konstitusional," ujarnya.*
(cn/ad)