MEDAN– Wakil Gubernur Sumatera Utara, Surya, mengikuti Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah secara virtual yang dipimpin Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, dari Kantor Gubernur Sumut, Jalan Diponegoro Nomor 30 Medan.
Provinsi Sumut berhasil mencatat deflasi 0,20% (month-to-month) pada Oktober 2025. Secara tahunan, inflasi Sumut tercatat 4,97% (year-on-year), menunjukkan tren penurunan dibanding bulan sebelumnya.
Mendagri Tito Karnavian menyampaikan, inflasi nasional Oktober 2025 tercatat 2,86% (yoy) dengan inflasi bulanan 0,28% (m-to-m), dan penyumbang utama inflasi nasional adalah emas dan perhiasan.
Baca Juga: Harga Cabai Merah Anjlok 8,5%, Beras dan Jagung Ikut Turun, Telur Malah Naik! Tito menjelaskan kenaikan harga emas dipicu oleh kebijakan beberapa negara yang menambah cadangan emas, sehingga memengaruhi harga emas di Indonesia.
Tito juga mengimbau pemerintah daerah untuk mengembangkan kios stabilisasi pengendalian inflasi, menjaga harga kebutuhan pokok tetap stabil, serta mengantisipasi potensi inflasi menjelang Natal dan Tahun Baru.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti, menyatakan bahwa dari 38 provinsi di Indonesia, 26 provinsi mengalami inflasi dan 12 provinsi mengalami deflasi, dengan Sumut mencatat deflasi terdalam.
Di Sumut, inflasi tahunan selain dipengaruhi oleh emas, juga disebabkan kenaikan harga cabai merah, beras, bawang merah, daging ayam ras, dan ikan segar.
Inflasi nasional bulanan tercatat disumbang oleh empat komoditas utama: perhiasan emas, cabai merah, telur ayam ras, dan daging ayam ras.*
(M/006)