JAKARTA - Indonesia masih menghadapi ketergantungan impor untuk sejumlah komoditas pangan strategis.
Kedelai, daging sapi atau kerbau, serta bawang putih menjadi tiga komoditas yang produksi dalam negerinya belum mampu memenuhi kebutuhan nasional.
Berdasarkan data Neraca Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), produksi kedelai nasional pada 2026 diperkirakan hanya sekitar 206.400 ton.
Baca Juga: Harga Ayam Potong di Medan Tembus Rp60 Ribu per Kg, Warga: Sejak MBG Ada, Naiknya Tak Masuk Akal Jumlah tersebut jauh di bawah kebutuhan nasional yang mencapai sekitar 2,74 juta ton per tahun.
Kesenjangan serupa terjadi pada komoditas daging sapi atau kerbau.
Produksi dalam negeri masih belum mencukupi kebutuhan masyarakat sehingga sebagian kebutuhan harus dipenuhi melalui impor.
Sementara itu, bawang putih juga masih menjadi komoditas pangan strategis yang belum mencapai swasembada.
Produksi bawang putih nasional hanya sekitar 23.800 ton, sedangkan kebutuhan dalam negeri mencapai sekitar 715.860 ton per tahun.
Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian (Kementan) Suwandi mengatakan rendahnya produktivitas dalam negeri menjadi salah satu penyebab Indonesia masih bergantung pada impor.
Untuk kedelai, persoalannya tidak hanya berkaitan dengan produksi yang rendah.
Luas lahan tanam yang terbatas, produktivitas yang belum optimal, serta daya saing usaha tani turut menjadi tantangan.
"Produksi domestik kedelai diproyeksikan hanya 206.000 ton, sedangkan kebutuhan mencapai 2,74 juta ton. Penyebab utamanya antara lain terbatasnya luas tanam, produktivitas yang masih rendah, daya saing usaha tani, serta kebutuhan industri tahu dan tempe yang sangat besar," ungkap dia dalam keterangan tertulisnya, Senin (7/9/2026).