ACEH TAMIANG – Pemulihan sektor pertanian di wilayah Aceh yang terdampak bencana hidrometeorologi terus menunjukkan perkembangan positif.
Pemerintah bersama berbagai pemangku kepentingan mempercepat program pemulihan lahan sawah agar aktivitas pertanian masyarakat dapat kembali berjalan normal.
Hingga awal Juli 2026, realisasi program optimalisasi lahan telah mencapai 32 persen.
Baca Juga: Bayi Perempuan Ditemukan Mengapung di Sungai Arakundo, Polres Aceh Timur Lakukan Penyelidikan Program tersebut menjadi bagian dari percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi di 18 kabupaten/kota terdampak bencana di Aceh.
Momentum pemulihan ditandai dengan pelaksanaan gerakan tanam padi perdana pascabencana hidrometeorologi di Desa Bukit Panjang, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Minggu (5/7/2026).
Kegiatan ini menjadi simbol dimulainya kembali aktivitas pertanian sekaligus upaya pemerintah mengembalikan produktivitas lahan dan memperkuat ketahanan pangan di daerah terdampak.
Sekretaris Daerah Aceh M. Nasir yang mewakili Gubernur Aceh H. Muzakir Manaf mengatakan bencana hidrometeorologi telah memberikan dampak besar terhadap sektor pertanian di Aceh.
Menurutnya, sekitar 57.364 hektare lahan sawah dan 60.438 hektare lahan perkebunan terdampak bencana.
Kabupaten Aceh Tamiang menjadi salah satu daerah yang mengalami kerusakan paling parah akibat banjir yang membawa lumpur dan material lainnya.
Meski demikian, proses pemulihan terus mengalami kemajuan. M. Nasir mengatakan progres optimalisasi lahan yang telah mencapai 32 persen merupakan hasil kerja bersama berbagai pihak dalam melaksanakan pemulihan lahan pertanian di 18 kabupaten/kota.
"Kami berterima kasih kepada Menteri Pertanian dan seluruh jajaran Kementerian Pertanian yang bergerak cepat membantu petani kita. Pemulihan ini menjadi prioritas utama agar roda perekonomian masyarakat kembali normal," ujar M. Nasir.
Ia menjelaskan, proses pemulihan dilakukan secara bertahap sesuai tingkat kerusakan lahan.