BANDA ACEH – Aktivitas di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Lam Pulo, Banda Aceh, sudah dimulai sejak fajar menyingsing.
Suasana di kawasan pelabuhan dipenuhi hiruk pikuk nelayan, pedagang, hingga para penggalas yang menunggu kapal-kapal ikan bersandar.
Pelabuhan Lam Pulo yang berada di pesisir utara Kota Banda Aceh dan berhadapan langsung dengan Selat Malaka menjadi pusat aktivitas perikanan terbesar di Aceh.
Baca Juga: Rupiah Dibuka Menguat ke Rp17.868 per Dolar AS, Pasar Masih Waspadai Ketegangan Iran-AS Dengan luas sekitar 80 hektare, pelabuhan ini merupakan satu-satunya Tempat Pelelangan Ikan (TPI) aktif di Kota Banda Aceh yang melayani bongkar muat sekaligus pelelangan hasil tangkapan nelayan.
Sejak dini hari, kapal-kapal nelayan silih berganti berangkat melaut maupun kembali membawa hasil tangkapan.
Kondisi tersebut membuat kawasan pelabuhan selalu ramai oleh pedagang ikan keliling, agen pembeli, hingga masyarakat yang datang mencari ikan segar.
Di sepanjang jalan menuju pelabuhan, pedagang sayuran juga terlihat memanfaatkan ramainya aktivitas untuk menawarkan dagangannya kepada para pengunjung dan nelayan.
Tidak hanya pedagang ikan dan sayuran, masyarakat yang menyediakan jasa membersihkan ikan juga mulai berjejer sejak subuh.
Dengan peralatan sederhana berupa pisau, batu asah, dan papan kayu sebagai alas pemotong, mereka menunggu pembeli yang ingin langsung membersihkan ikan sebelum dibawa pulang.
Bagi warga Lam Pulo, aktivitas di pelabuhan bukan sekadar rutinitas, tetapi menjadi sumber penghidupan utama.
Sebagian besar penduduk Gampong Lam Pulo berprofesi sebagai nelayan yang menggantungkan ekonomi keluarga dari hasil laut.