ACEH – Upaya rehabilitasi lahan pertanian yang terdampak bencana hidrometeorologi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat terus menunjukkan hasil positif.
Ribuan hektare sawah yang sebelumnya rusak kini mulai pulih dan kembali dimanfaatkan oleh para petani untuk berproduksi.
Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera menegaskan bahwa pemulihan sektor pertanian menjadi salah satu prioritas utama pemerintah karena berkaitan langsung dengan penghidupan masyarakat serta ketahanan pangan daerah.
Baca Juga: DPRD Asahan Setujui Raperda Pertanggungjawaban APBD 2025, Bupati Minta OPD Utamakan Kepentingan Rakyat Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, mengatakan percepatan rehabilitasi lahan sangat penting agar aktivitas pertanian dan ekonomi masyarakat dapat segera kembali normal.
Berdasarkan data pemulihan hingga 22 Juni 2026, Sumatera Barat mencatat capaian rehabilitasi sawah tertinggi dengan progres mencapai 97,56 persen.
Sementara itu, Sumatera Utara telah mencapai 58,88 persen.
Adapun di Aceh, rehabilitasi lahan telah mencapai sekitar 47 persen atau 14.799 hektare dari total lahan terdampak seluas 31.464 hektare.
Menurut Tito, luasnya kerusakan lahan pertanian akibat bencana membuat percepatan pemulihan menjadi kebutuhan mendesak.
Dengan semakin cepat lahan diperbaiki, petani dapat kembali menanam dan memperoleh penghasilan.
"Pak Menteri Pertanian (Amran Sulaiman) minta tolong kepada saya agar kepala dinas pertanian betul-betul memanfaatkan anggaran yang telah disalurkan Kementerian Pertanian," kata Tito dalam Rapat Koordinasi dan Evaluasi Capaian Pembangunan serta Percepatan Pemulihan Pascabencana Hidrometeorologi di Kantor Gubernur Aceh, Selasa (9/6/2026).
Untuk mendukung proses tersebut, Kementerian Pertanian telah menyalurkan anggaran rehabilitasi lahan pertanian sebesar Rp877,126 miliar.
Pemerintah pusat juga menyiapkan tambahan anggaran guna mempercepat pemulihan sektor pertanian di wilayah terdampak bencana.