JAKARTA – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menghubungi Presiden Prabowo Subianto untuk menyampaikan apresiasi atas persetujuan ekspor pupuk urea dari Indonesia ke Australia.
Komunikasi tersebut disebut menjadi sinyal menguatnya posisi Indonesia dalam rantai pasok pangan global.
Amran mengatakan, percakapan tingkat kepala pemerintahan itu terjadi di tengah dimulainya ekspor perdana pupuk urea ke Australia dari Dermaga Bontang, Kalimantan Timur, Kamis (14/5/2026).
Baca Juga: Tekan Angka Pengangguran, Disnaker Medan Fasilitasi 1.017 Warga Kerja ke Luar Negeri dalam Lima Bulan Ekspor tersebut merupakan bagian dari kerja sama Government to Government (G2G) antara Indonesia dan Australia di sektor pupuk.
"Perdana Menteri Australia menelepon Bapak Presiden Prabowo mengucapkan terima kasih karena Indonesia menyetujui ekspor pupuk ke Australia," ujar Amran dalam keterangan resmi, Jumat (15/5/2026).
Ekspor perdana yang dilepas mencapai 47.250 ton pupuk urea.
Total komitmen kerja sama disebut mencapai 250.000 ton dan berpotensi meningkat hingga 500.000 ton dengan nilai sekitar Rp 7 triliun.
Amran menyebut kerja sama ini tidak hanya bersifat perdagangan, tetapi juga bagian dari strategi diplomasi pangan Indonesia di kawasan Asia Pasifik.
Menurut dia, Indonesia kini mulai dipandang sebagai salah satu pemasok penting dalam sektor pupuk global.
"Ini mencetak sejarah, karena kita akan mengekspor pupuk ke beberapa negara termasuk Australia," kata dia.
Meski demikian, Amran menegaskan pemerintah tetap memprioritaskan kebutuhan pupuk dalam negeri.
Ia menyebut kapasitas produksi nasional masih surplus sehingga memungkinkan adanya ekspor tanpa mengganggu pasokan petani domestik.