JAKARTA – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjelaskan alasan pemerintah melibatkan Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (TNI dan Polri) dalam program swasembada pangan nasional.
Menurut Amran, keterlibatan aparat diperlukan untuk mencegah potensi persoalan hingga dugaan praktik yang merugikan petani dan peternak lokal.
Pernyataan itu disampaikan Amran saat menghadiri Panen Raya Kedelai Ketahanan Pangan TNI AL 2026 bertema Menuju Swasembada Nasional di Desa Ngudikan, Kecamatan Wilangan, Kabupaten Nganjuk, Kamis, 14 Mei 2026.
Baca Juga: LPEM UI Kritik Angka Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen, Sebut Ada Indikasi “Halusinasi Statistik” Amran mencontohkan persoalan yang pernah dialami peternak susu lokal yang terpaksa membuang hasil produksi mereka karena kalah bersaing dengan susu impor.
"Kenapa susu dibuang? Karena lebih murah susu dari New Zealand, lebih murah dari Amerika," kata Amran.
Menurut dia, produk impor memiliki keunggulan dari sisi teknologi produksi dan suplai dalam jumlah besar sehingga peternak lokal kesulitan bersaing di pasar domestik.
Amran mengatakan pemerintah kemudian memanggil pelaku industri susu karena dinilai belum memiliki kewajiban menyerap hasil produksi peternak lokal.
Ia menilai kondisi tersebut berpotensi memicu keresahan sosial jika dibiarkan berlarut-larut.
"Kenapa TNI terlibat? Kenapa Polri terlibat? Karena kita mencegah kejahatan di hulu," ujarnya.
Amran menilai sektor pertanian memiliki peran strategis terhadap stabilitas ekonomi nasional karena berkaitan langsung dengan kehidupan jutaan masyarakat.
Karena itu, pemerintah berupaya memastikan hasil produksi petani dan peternak lokal terserap maksimal sebelum membuka ruang impor.
"Kami tidak akan keluarkan rekomendasi impor sebelum susu peternak diserap," katanya.