TAPUT – Sekitar 30 hektare lahan persawahan di Desa Sibulan-bulan, Kecamatan Purbatua, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, masih belum bisa difungsikan setelah diterjang banjir besar pada akhir November 2025.
Lahan pertanian yang tersebar di tiga titik – Saba Tolong, Raisan, dan Saba Aek Bulan-bulan – kini tertutup material pasir dan lumpur, membuat aktivitas tanam padi warga terhenti.
"Sudah lebih dari tiga bulan sejak banjir, tapi belum ada langkah nyata dari pemerintah untuk membersihkan sawah kami," kata Boru Panjaitan, Senin (6/4/2026).
Baca Juga: Medan Siapkan Rusun untuk Warga Pinggiran Sungai, Wakil Wali Kota Zakiyuddin: Hunian Layak sekaligus Atasi Banjir Akibat kondisi ini, petani kehilangan sumber penghasilan utama mereka. Meski demikian, warga mulai mendapat kabar bahwa perbaikan akan segera dilakukan.
"Katanya akan ditangani TNI. Informasinya akan ada pengerukan dalam waktu dekat," ujarnya.
Banjir yang merusak sawah di Desa Sibulan-bulan merupakan bagian dari bencana besar yang melanda Taput pada November 2025.
Luapan Sungai Batangtoru yang dipicu hujan ekstrem membawa pasir, lumpur, dan kayu dari hulu.
Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut, bencana ini menewaskan 36 orang dan memaksa 1.197 warga mengungsi.
Selain sektor pertanian, infrastruktur juga terdampak parah.
Jembatan penghubung nasional Tarutung–Sipirok di Kecamatan Purbatua sempat terputus, puluhan rumah warga terendam hingga ketinggian empat meter, dan banyak lahan persawahan mengalami gagal panen.
Warga berharap percepatan pengerukan dan pemulihan sawah agar musim tanam berikutnya tidak terlewat.
"Kalau tidak segera ditangani, kami takut musim tanam selanjutnya kembali gagal," kata Boru Panjaitan.