JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan program pemulihan besar-besaran untuk lahan pertanian yang terdampak banjir di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan, seluruh penanganan akan dilakukan cepat dan sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah.
"Lahan-lahan pertanian yang rusak parah akan dicetak ulang. Yang mengerjakan adalah pemerintah. Kementerian Pertanian tanggung jawab penuh," ujar Amran saat melepas keberangkatan bantuan korban bencana di Kantor Kementan, Ragunan, Jakarta Selatan, Kamis (11/12/2025).
Baca Juga: Kapolri Listyo Sigit Tinjau Posko Pengungsian Aceh Tamiang, Salurkan Enam Truk Bantuan untuk Warga Terdampak Berdasarkan data Kementan, total lahan terdampak mencapai 44.000 hektare, dengan sekitar 4.500–5.000 hektare mengalami puso atau gagal panen.
Amran menyebutkan, khusus untuk sawah yang rusak parah seluas 11.000 hektare akan dicetak ulang mulai awal Januari 2026.
Selain sawah, pemerintah juga memberikan perhatian pada sektor perkebunan. Di Aceh, misalnya, lahan kopi yang rusak akan diremajakan melalui program replanting.
"Sektor pertanian insyaAllah kami selesaikan, mulai dari Aceh, Sumut, dan Sumbar," tambah Amran.
Untuk lahan yang hanya mengalami puso, pemerintah akan menyediakan bantuan benih dan alat mesin pertanian (alsintan) agar petani dapat kembali berproduksi tanpa menunggu lama.
Anggaran untuk seluruh program pemulihan pertanian dan perkebunan sudah siap dan dapat diperluas bila diperlukan.
Langkah ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, yang menegaskan pemerintah akan segera merehabilitasi sawah dan infrastruktur terdampak banjir.
Presiden juga memastikan cadangan pangan nasional cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak.
Sejak 28 November 2025, Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama Bulog telah menyalurkan bantuan pangan, termasuk beras dan minyak goreng, ke daerah terdampak.