MEDAN – Fenomena cuaca ekstrem kini menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan Indonesia.
Kekeringan berkepanjangan hingga banjir mendadak telah menyebabkan ribuan hektar lahan pertanian gagal panen, terutama pada produksi padi dan jagung.
Baca Juga: Lampung Siap Jadi Lumbung Bahan Baku Bioetanol Nasional Data penelitian menunjukkan bahwa perubahan iklim memicu penurunan produktivitas tanaman pangan, memaksa petani menanggung kerugian hingga ratusan juta rupiah setiap musim tanam.
Ancaman terhadap Ketahanan PanganKetahanan pangan Indonesia harus menjamin ketersediaan pangan dari sisi kuantitas, kualitas, keamanan, dan keterjangkauan.
Namun, tantangan semakin kompleks dengan pertumbuhan penduduk lebih dari 270 juta jiwa dan konversi lahan pertanian untuk kebutuhan non-pertanian.
Menurut Jurnal Penelitian Pertanian Terapan Vol. 23, produksi pangan bergantung pada keseimbangan antara manusia, teknologi, dan unsur alam seperti tanah, air, dan iklim.
Dalam beberapa tahun terakhir, anomali iklim seperti perubahan intensitas curah hujan, kenaikan suhu, kekeringan, dan banjir semakin sering terjadi.
Fenomena El Niño Southern Oscillation (ENSO) menjadi salah satu faktor utama variabilitas iklim di Indonesia.
El Niño memicu kekeringan parah, sedangkan La Niña menyebabkan curah hujan berlebih yang sama-sama merugikan petani.
Dampak Cuaca Ekstrem pada PadiPenelitian menunjukkan bahwa El Niño memberikan dampak negatif signifikan pada produksi padi. Kenaikan curah hujan 1% dapat menurunkan produksi padi sebesar 0,078%.
Padi sawah dapat mengalami penurunan produksi hingga 2,43%, sedangkan padi ladang hingga 2,91%, karena tidak tersambung dengan jaringan irigasi.