Petani Sergai Protes, Bulog Sumut Diduga Beli Gabah di Bawah Harga Standar Pemerintah

Abyadi Siregar - Rabu, 27 Agustus 2025 16:08 WIB
Petani di Serdang Bedagai, Provinsi Sumut sedang panen. (foto: ist)

SERGAI-Para petani di Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), Provinsi Sumut, terutama di Kecamatan Tanjung Beringin mengeluh. Mereka protes harga gabah siap penen di daerah itu, di bawah standar yang ditetapkan Presiden RI Prabowo Subianto sebesar Rp 6.500/Kg.

Sesuai Inpres Nomor 6 tahun 2025 tentang Pengadaan dan Pengelolaan Gabah/Beras Dalam Negeri Serta Penyaluran Cadangan Beras Pemerintah, telah ditetapkan harga gabah siap penen sebesar Rp 6.500/Kg.

Namun di Kabupaten Sergai, harga gabah siap panen yang dibayar kepada petani hanya Rp 6.250 sampai Rp 6.300 per kilogram. Ini dibenarkan Zulpan (35), salah seorang petani di Desa Pematang Cermai, Kecamatan Tanjung Beringin, Senin (25/8).

Zulpan yang sedang panen, kepada wartawan menuturkan, harga gabah yang dipanen dengan sabitan treser atau komben, dijual kepada pihak Badan Urusan Logistik (Bulog) dengan harga Rp 6.350/Kg. Sedang harga jual kepada agen lainnya hanya seharga Rp 6.250/Kg.

"Kalau gabah yang dipanen dengan alat odong-odong, dibeli pihak Bulog dengan harga Rp 6.450/Kg. Kalau dijual kepada pihak agen yang lain harganya hanya Rp 6.400/Kg," kata Zulfan.

Zulfan mengaku sangat kecewa kepada Bulog yang membeli gabah siap panen dari petani tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan presiden melalui Inpres Nomor 6 tahun 2025.

Harga pembelian gabah oleh pemerintah (Bulog) itu, menurutnya, sangat merugika petani. Pengelolaan lahan persawahan serta perawatan padi hinga panen, katanya, mengeluarkan modal besar dan diperkirakan mencapai Rp 600 ribu sampai Rp 800 ribu per rante.

"Itu untuk biaya jetor, menamping, menanam, obat-obatan, pupuk subsidi urea, phoska yang harga kepada petani mencapai Rp 140 ribu sampai Rp 160 ribu per sak," jelasnya.

Ia berharap pemerintah dapat menstabilkan kembali harga gabah sesuai dengan standar yang sudah ditetapkan, supaya para petani tidak merasa dirugikan.

Sementara itu, Darianto (40), salah seorang petani warga Desa Nagur, Kecamatan Tanjung Beringin yang ditemui wartawan saat panen, Selasa (16/8), menyampaikan hal sama. Ia mengaku menjual gabah hasil dipanennya hanya Rp 6.250/Kg yang menggunakan alat sabit komben. Sedang untuk gabah yang dipanen dengan alat odong-odong yang diambil oleh agen lain Rp 6.400/Kg.

"Ada apa ini? Apakah beda harga gabah di Sumatera Utara dengan provinsi lainnya di Indonesia," ujar Darianto dengan dana kecewa. Ia juga menambahkan, harga pupuk subsidi urea dan phoska yang dipakai untuk pengelolaan padi, mencapai Rp 140 ribu sampai Rp 260 ribu per sak.

"Kita juga minta kepada pemerintah agar pestisida diberikan subsidi kepada para petani. Sebab saat ini harga pestisida cukup tinggi di pasaran (kios pupuk)," harapnya.*

Editor
: Redaksi

Tag:

Berita Terkait

Pertanian Agribisnis

Negara Absen, Harga Melambung: Siapa Sebenarnya yang Diuntungkan?

Pertanian Agribisnis

Polda Sumut dan Bulog Luncurkan Gerakan Pangan Murah, Targetkan Stabilisasi Harga Jelang Lebaran

Pertanian Agribisnis

Bulog Kirim 27 Ribu Ton Beras ke Sumut Jelang Lebaran, Stok Dipastikan Aman

Pertanian Agribisnis

Pelaku Pencurian 3 Karung Gabah Basah di Way Kanan Ditangkap, Kerugian Capai Rp 1,8 Juta

Pertanian Agribisnis

Harga Beras di Medan Masih Tinggi, Bulog Lakukan Pemantauan Langsung

Pertanian Agribisnis

Pemkab Deli Serdang Apresiasi Bantuan 3 Truk Logistik dari Palembang