NIAS SELATAN- Sejumlah siswa di Kabupaten Nias Selatan harus menyeberangi sungai untuk pergi ke sekolah setiap hari. Kondisi itu membuat mereka berharap pemerintah segera memperbaiki akses jalan alternatif yang menghubungkan permukiman dengan sekolah.
Asdar (17), siswa asal Desa Fondrako Raya, Kecamatan Ulususua, Nias Selatan, mengatakan akses menuju sekolah menjadi salah satu persoalan yang lebih mendesak bagi mereka. Menurutnya, program Makan Bergizi Gratis (MBG) sudah diterima di sekolah, tetapi akses menuju sekolah masih sulit.
"Lebih baik ada perbaikan jalan alternatif, karena itu lebih penting daripada MBG," keluh Asdar, Rabu (23/9/2026).
Baca Juga: Sapu Bersih Dapur Kotor dan Tak Layak, BGN Suspend Rata-Rata 30 Pengelola MBG Setiap Hari Asdar mengatakan siswa di sekolahnya tetap menerima MBG setiap Senin hingga Jumat. Dia menyebut tidak ada persoalan dengan menu yang diberikan, tetapi sebagian makanan disebut masih terbuang.
Persoalan utama yang dihadapi para siswa adalah perjalanan menuju sekolah. Asdar mengatakan dia dan siswa lainnya dari Dusun 3 harus pergi ke desa lain karena di wilayah tempat tinggal mereka tidak terdapat sekolah.
Untuk mencapai sekolah, para siswa harus melewati sungai dan berangkat sejak pagi. Mereka biasanya berangkat sekitar pukul 06.00 WIB meski jam masuk sekolah baru pukul 08.00 WIB.
Jalur sungai yang mereka lewati memiliki panjang sekitar 1 kilometer. Para siswa harus mencari bagian sungai yang dinilai aman untuk dilalui dengan berjalan naik turun mengikuti aliran air. Saat sungai banjir, mereka bahkan harus menunggu hingga sekitar dua jam sampai kondisi memungkinkan untuk diseberangi.
Kondisi tersebut tidak hanya dialami saat berangkat. Para siswa juga harus kembali melewati sungai ketika pulang sekolah. Mereka bahkan disebut berangkat dari rumah dengan pakaian biasa dan baru mengenakan seragam ketika tiba di sekolah.
Sebenarnya sudah terdapat jalan alternatif darat. Namun, menurut Asdar, jalan tersebut kini terbengkalai dan dipenuhi semak belukar sehingga para siswa lebih memilih melewati sungai meski jaraknya lebih jauh.
Asdar mengatakan hingga video perjuangan siswa menyeberangi sungai menjadi perhatian publik, belum ada peninjauan dari pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat ke lokasi tersebut.
Kondisi itu mendapat perhatian dari anggota DPRD Sumatera Utara daerah pemilihan Kepulauan Nias, Megawati Zebua. Ia mengaku prihatin dengan akses yang harus dilalui anak-anak untuk mendapatkan pendidikan.
Megawati mengatakan masih terdapat banyak kasus siswa di Kepulauan Nias yang harus menyeberangi sungai untuk pergi ke sekolah. Ketika sungai banjir, perjalanan menuju sekolah dapat terganggu dan siswa berisiko basah saat melintasi arus.