BANTEN — Polisi belum dapat memastikan kondisi kapal cepat atau speedboat Arupadhatu 1 yang membawa lima jurnalis dan tiga awak kapal saat meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.
Kapal tersebut hilang kontak setelah berangkat dari dermaga Carita, Pandeglang, Banten, pada 7 September 2026.
Hingga kini, keberadaan kapal maupun sebagian besar orang yang berada di dalamnya belum diketahui.
Baca Juga: Sambangi Nikomas Gemilang, Wamenaker Tekankan Aturan Kerja Harus Seimbangkan Hak Buruh dan Industri Kapolda Banten Irjen Hengki mengatakan polisi belum bisa memastikan apakah kapal tersebut tenggelam, terbakar, atau terbawa arus.
"Kapal itu tenggelam, terbakar, hilang dan sebagainya saya tidak menjawab itu, yang pasti dari sampai dengan sekarang Arupadhatu 1 kapalnya kan tidak ada yang ditemukan," kata Kapolda Banten Irjen Hengki dalam konferensi pers, Rabu, 23 September 2026.
Hengki mengatakan kemungkinan kondisi kapal masih dalam penyelidikan.
Polisi belum menemukan kapal tersebut sehingga belum dapat menyimpulkan apa yang terjadi.
"Belum ada kejelasan kapal itu ke mana. Apakah terbawa arus atau terendam, tenggelam ke dalam dasar laut, saya tidak menjawab itu," sambungnya.
Selain kapal, polisi juga belum dapat memastikan kondisi tujuh orang lainnya yang berada dalam rombongan tersebut.
Hengki mengatakan kemungkinan mengenai keberadaan mereka belum dapat disimpulkan karena hingga saat ini belum ada informasi yang memastikan kondisi para korban.
"Kedua bagaimana korban-korban yang lain? Saya belum bisa menjawab kalau korban-korban yang lain atau yang belum ditemukan. Ternyata mereka mungkin selamat, mungkin terbawa ke luar negeri, saya tidak tahu dan tidak saya jawab itu," ujarnya.
Sebelumnya, operasi pencarian terhadap lima jurnalis dan tiga awak kapal Arupadhatu 1 telah dilakukan selama 10 hari.