ACEH UTARA — Sejumlah penyintas banjir di hunian sementara (huntara) Desa Keude Bungkah, Kecamatan Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara, Aceh, masih bertahan setelah hampir setahun meninggalkan rumah mereka.
Pada Minggu, 20 September 2026, sejumlah penyintas terlihat duduk di bawah pohon di area hunian sementara.
Terik matahari membuat mereka memilih berada di luar hunian.
Baca Juga: Kemensos Cairkan Rp435,3 Miliar untuk Korban Bencana di 6 Daerah Sumatra, Segini Bantuan untuk Tapteng dan Taput Kondisi di dalam rumah sementara dinilai terlalu panas dan tidak nyaman untuk ditempati.
Padahal, para penyintas sudah sekitar 11 bulan tinggal di huntara sambil menunggu pembangunan hunian tetap yang dijanjikan pemerintah.
"Kami sudah menerima jadup (jaminan hidup), bantuan ekonomi dan isi hunian. Masalahnya uang itu kita gunakan beli beras, kompor dan lain sebagainya. Sudah habis juga," kata Yanti, salah seorang penghuni hunian sementara itu.
Yanti mengatakan, sebelum bencana banjir pada 26 November 2026 lalu, suaminya bekerja sebagai petani tambak. Namun, kondisi tambak mereka berubah setelah bencana.
Tambak tersebut kini berubah menjadi laut. Rumah mereka juga rata dengan tanah.
Untuk bertahan hidup, Yanti dan keluarganya kini mencari kerang. Dalam sehari, penghasilan yang diperoleh berkisar Rp20.000-Rp30.000.
"Sebenarnya berat, hanya saja daripada tidak ada sama sekali pendapatan. Suami saya sekarang bekerja serabutan," ujar Yanti.
Rumah Yanti harus direlokasi. Namun, hingga kini belum ada kepastian kapan hunian tetap bagi keluarganya akan dibangun.
"Sampai kapan kami di sini? Kami juga tidak tahu. Kami tidak punya pilihan lain," katanya.