TAPANULI SELATAN, — Sedikitnya 185 hektare areal persawahan di Kecamatan Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, terdampak banjir bandang yang terjadi pada 25 November 2025. Kerusakan lahan membuat sebagian warga kehilangan sumber penghasilan dan hingga kini harus mencari pekerjaan lain untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Data Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Batangtoru mencatat lahan persawahan yang terdampak tersebar di Desa Garoga, Pulau Godang (Telo), Aek Ngadol, Sumuran, Hapesong Baru dan Wek I Batangtoru.
Koordinator BPP Batangtoru Eri Syahruddin mengatakan lahan pertanian di sejumlah wilayah tersebut tertimbun material banjir berupa lumpur, pasir, batu hingga batang kayu.
Baca Juga: Wapres Gibran: Pemerintah Percepat Pembangunan Huntap agar Warga Dapat Tempat Tinggal Layak dan Aman "Ketebalan lumpur antara 80 sentimeter hingga 150 sentimeter sehingga menyulitkan pola tanam padi," kata Eri, Sabtu (19/9/2026).
Kondisi tersebut membuat sebagian sawah belum dapat kembali digunakan untuk menanam padi. Namun, sejumlah petani masih berupaya memanfaatkan lahan yang memungkinkan dengan menanam jagung, kacang-kacangan dan tanaman lainnya.
Sementara petani yang lahannya belum dapat digarap kembali harus mencari sumber penghasilan lain. Sebagian warga memilih bekerja serabutan karena lahan pertanian yang sebelumnya menjadi sumber utama pendapatan belum kembali produktif.
Kepala Desa Garoga Risman Rambe mengatakan kerusakan sawah dan kebun berdampak langsung terhadap kehidupan warga. Menurutnya, sebagian masyarakat kehilangan mata pencaharian setelah lahan mereka tertimbun material banjir.
"Saya juga miris. Mau bilang apa lagi, sawah dan kebun sudah tidak bisa digarap atau belum produktif lagi. Mata pencarian mereka sudah hilang. Sementara mereka dan keluarga ingin hidup," kata Risman.
Menurut Risman, warga berusaha bertahan dengan mengambil berbagai pekerjaan yang dapat menghasilkan pendapatan. Namun, pekerjaan serabutan tidak selalu tersedia sehingga belum mampu menggantikan penghasilan dari pertanian.
Sebagian penyintas bahkan terlihat berdiri di sekitar jembatan Desa Garoga sambil menadahkan kardus kepada kendaraan yang melintas. Lokasi tersebut berada di jalur yang menghubungkan Kota Padangsidimpuan dengan Sibolga.
Bagi warga yang melakukan hal tersebut, pemberian dari pengguna jalan menjadi salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari setelah sumber penghasilan dari sawah dan kebun terhenti.
Banjir bandang yang menerjang kawasan Batangtoru pada 25 November 2025 memang telah surut. Namun, dampaknya masih dirasakan warga, terutama mereka yang kehilangan lahan pertanian.