KARO — Aktivitas vulkanik Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, menunjukkan tren penurunan setelah erupsi yang terjadi pada Senin, 31 Agustus 2026.
Penurunan aktivitas terlihat dari jumlah kegempaan dan kondisi visual asap dari puncak gunung yang terpantau selama sepekan terakhir hingga Minggu, 6 September 2026.
Meski aktivitas cenderung menurun, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan tingkat aktivitas Gunung Sinabung masih tinggi.
Baca Juga: 113 Orang Jadi Tersangka Karhutla, Mengapa Belum Ada Korporasi yang Dijerat? Status gunung api tersebut tetap berada pada Level III atau Siaga.
Berdasarkan kondisi tersebut, PVMBG menerbitkan rekomendasi terbaru mengenai perubahan radius zona bahaya Gunung Sinabung.
Rekomendasi itu tertuang dalam Laporan Khusus Nomor 1513.Lap/GL.03/BGL/2026 dan telah disebarkan melalui Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Sinabung pada 6 September 2026.
"Perubahan radius zona rekomendasi Gunung Sinabung, Sumatera Utara Level III (Siaga) tanggal 6 September 2026 Pukul 12.00 WIB Gunungapi Sinabung merupakan gunungapi aktif yang berada di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara. Tingkat aktivitas Gunungapi Sinabung pada saat ini adalah Level III (Siaga) sejak 31 Agustus 2026," dikutip dalam surat rekomendasi PVMBG.
PVMBG melakukan pemantauan secara intensif terhadap aktivitas Gunung Sinabung hingga 6 September 2026.
Dari hasil pemantauan tersebut, asap kawah masih terlihat dari puncak.
Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tebal dan ketinggian sekitar 300-500 meter di atas puncak kawah.
Pemantauan menggunakan pesawat nir-awak atau drone juga tidak menemukan adanya pertumbuhan kubah lava baru di pusat erupsi Gunung Sinabung.
Selain itu, tidak terekam kejadian gempa guguran yang menunjukkan kondisi kubah lava lama masih relatif stabil.