JAKARTA — Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) merilis citra satelit yang memperlihatkan kepulan asap akibat kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Pulau Kalimantan.
Citra tersebut dipotret satelit Aqua pada Selasa, 1 September 2026, kemudian dirilis NASA melalui akun X pada Jumat, 4 September 2026.
Dalam citra itu, sebagian besar wilayah Pulau Kalimantan tampak tertutup lapisan asap berwarna putih keabu-abuan.
Baca Juga: Gunung Sinabung Siaga Level 3, BPBD Sumut Pastikan Pengungsi dan Warga di Zona Merah Ditangani Ratusan titik merah juga terlihat tersebar di sejumlah wilayah.
Titik merah tersebut menunjukkan anomali panas yang terdeteksi instrumen Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer atau MODIS yang berada di satelit Aqua.
Peneliti Columbia University sekaligus pengembang Global Fire Weather Database NASA, Robert Field, mengatakan tren peningkatan kebakaran saat ini mengkhawatirkan.
"Indonesia baru sekitar tiga minggu memasuki musim kebakarannya, tetapi kami melihat aktivitas kebakaran melonjak tajam, mirip seperti tahun 2015," kata Field, sebagaimana dilansir situs web NASA.
Menurut Field, kondisi tersebut tidak terlepas dari fenomena iklim El Nino yang kuat pada tahun ini.
"El Nino yang kuat membuat musim kemarau menjadi lebih kering di wilayah-wilayah yang rawan kebakaran dan memperparah pembakaran—persis seperti yang kami perkirakan," papar Field.
NASA menyebut kebakaran di lahan gambut, termasuk di Kalimantan, menjadi salah satu jenis karhutla yang sulit ditangani.
Lahan gambut yang mengering dapat terbakar secara perlahan di bawah permukaan tanah dengan suhu rendah.
Dalam kondisi normal, gambut di Kalimantan, Sumatra, dan Papua terlalu basah untuk memungkinkan api menyebar di bawah tanah.