JAKARTA — Hutan hujan tropis Indonesia dan Malaysia, termasuk kawasan hutan serta gambut di Kalimantan, pada dasarnya bukan ekosistem yang mudah terbakar.
Dalam kondisi alami dan tidak mengalami gangguan, hutan hujan tropis memiliki kelembapan tinggi sehingga api sulit berkembang.
Curah hujan tahunan rata-rata mencapai sekitar 2.540 milimeter, sedangkan kelembapan udara umumnya berada di atas 75 persen.
Baca Juga: Saat Indonesia Rayakan Kemerdekaan, 4.700 Pekerja Migas PHI Tetap Bertugas 24 Jam Kondisi tersebut membuat lantai hutan relatif lembap.
Serasah atau sisa tumbuhan yang jatuh ke permukaan tanah juga cepat terurai sehingga tidak menumpuk dalam jumlah besar sebagai bahan bakar.
Karena itu, kemungkinan hutan terbakar secara alami sebenarnya sangat kecil. Bahkan jika api muncul, kebakaran cenderung tidak mudah meluas.
Lantas, mengapa kebakaran hutan dan lahan masih terus terjadi?
Mengutip Natural Forest Division, Forest Research Institute Malaysia (FRIM) yang dimuat di laman Organisasi Pangan Dunia (FAO), salah satu penyebabnya adalah perubahan kondisi hutan akibat gangguan dan degradasi.
Ketika hutan mengalami kerusakan, banyak sisa vegetasi tertinggal di lantai hutan.
Pada saat yang sama, tajuk pohon menjadi lebih terbuka sehingga sinar matahari dapat langsung mencapai permukaan tanah.
Kondisi tersebut membuat lingkungan hutan menjadi lebih kering. Risiko kebakaran kemudian meningkat ketika terjadi musim kemarau panjang.
Pada kawasan hutan sekunder, misalnya, vegetasi seperti alang-alang (Imperata cylindrica) dan pohon gelam (Melaleuca cajuputi) dapat mengering. Vegetasi yang mengering itu kemudian menjadi bahan bakar yang mudah terbakar.