JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 2.119 gempa susulan terjadi setelah gempa bumi magnitudo (M) 7,7 mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026). Ribuan gempa susulan tersebut tercatat hingga Selasa (18/8/2026) pukul 05.00 WIB dengan magnitudo M1,3 hingga M6,2.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan dari 2.119 gempa susulan tersebut, sebanyak 24 kejadian memiliki magnitudo di atas 5. Sementara 70 gempa susulan dilaporkan dirasakan oleh masyarakat.
"Berdasarkan data sementara gempa susulan ini akan berakhir 3–4 minggu ke depan," ujar Wijayanto dalam keterangan tertulis, Selasa (18/8/2026).
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp17.839, Pasar Tunggu Sinyal The Fed dan Cermati Pidato Prabowo soal Kemandirian Ekonomi Gempa utama terjadi pada Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58 WIB dengan parameter pemutakhiran M7,7. Gempa tersebut tergolong dangkal dan dipicu aktivitas tektonik di Flores Back-Arc dengan mekanisme pergerakan naik atau thrust fault.
Gempa utama tersebut juga memicu tsunami di sejumlah wilayah. BMKG mengeluarkan Peringatan Dini Tsunami 1 dalam waktu 2 menit 16 detik setelah gempa dengan status Siaga untuk potensi tsunami setinggi 0,5 hingga 3 meter dan status Waspada untuk potensi tsunami kurang dari 0,5 meter.
Sejumlah wilayah yang sempat masuk status Siaga antara lain Manggarai bagian utara, Ngada bagian utara, Ende, Flores Timur dan Jeneponto. Sementara status Waspada diberlakukan di Flores Timur, Bima, Dompu dan Wajo.
Peringatan Dini Tsunami kemudian dinyatakan berakhir pada pukul 07.30 WIB atau 2 jam 31 menit 37 detik setelah gempa utama.
Berdasarkan hasil observasi stasiun pasang surut, gempa tersebut memicu tsunami di 16 lokasi yang tersebar di empat provinsi, yakni NTT, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.
Ketinggian tsunami tertinggi tercatat di Pota, Manggarai Timur, NTT, pada pukul 05.03 WIB dengan tinggi 1,605 meter. Sementara ketinggian terendah tercatat di Bakalang, Alor, NTT, pada pukul 05.41 WIB sebesar 0,14 meter.
Data sementara juga menunjukkan gempa M7,7 Flores menyebabkan 53 orang meninggal dunia dan 137 orang mengalami luka-luka. Selain itu, kerusakan ringan hingga berat dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah, terutama Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Sikka dan Maumere.
BMKG telah menerjunkan tim gabungan dari pusat dan unit pelaksana teknis untuk melakukan survei dampak gempa. Kegiatan tersebut meliputi survei makroseismik, pengukuran mikrotremor dan MASW, pemantauan gempa susulan, hingga verifikasi dampak tsunami di lapangan.
Survei tersebut dilakukan untuk mendukung proses pemulihan dan rekonstruksi pascabencana. Hasil survei nantinya digunakan sebagai dasar pemetaan mikrozonasi pascagempa, evaluasi kondisi wilayah terdampak serta penyusunan rekomendasi mitigasi dan rekonstruksi yang lebih aman.