BANDA ACEH — Peringatan Hari Damai Aceh ke-21 di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Sabtu, 15 Agustus 2026, diwarnai kericuhan.
Kegiatan yang awalnya berlangsung dengan zikir dan doa berubah menjadi aksi saling lempar antara masyarakat dan aparat keamanan.
Ribuan warga dari berbagai daerah di Aceh menghadiri kegiatan tersebut.
Baca Juga: Pemerintah Siapkan Rp100,17 Triliun untuk Pulihkan Aceh, Sumut, dan Sumbar hingga 2028 Peserta disebut datang dari sejumlah wilayah, mulai dari Aceh Tamiang hingga Aceh Singkil.
Penyelenggara memperkirakan sekitar 5.000 orang hadir dalam kegiatan yang digagas oleh masyarakat Aceh tersebut.
Wakil Ketua Panitia Zikir dan Doa, Tgk Zainuddin Unit, mengatakan kegiatan tersebut murni merupakan inisiatif masyarakat Aceh.
Menurut dia, kegiatan digelar karena adanya keprihatinan terhadap kondisi Aceh saat ini.
"Kegiatan ini murni digagas oleh Masyarakat Aceh yang prihatin melihat kondisi Aceh saat ini," kata Tgk Zainuddin Unit kepada wartawan di Banda Aceh beberapa hari lalu.
Ia mengatakan kegiatan tersebut sejak awal diarahkan untuk zikir, doa, dan penyampaian aspirasi.
Panitia juga meminta peserta tidak membawa atribut tertentu.
"Pada kegiatan tersebut Tgk Zainuddin Masyarakat dilarang membawa Bendera Bulan Bintang, kita fokus pada Zikir dan doa dan penyampaian Aspirasi untuk kebaikan Aceh," ujarnya.