NAGEKEO — Sejumlah akses jalan menuju Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), terputus setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Pulau Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Putusnya sejumlah ruas jalan membuat Kabupaten Nagekeo, terutama wilayah Mbay, sulit dijangkau melalui jalur darat.
Kondisi tersebut turut menghambat mobilisasi bantuan dan penanganan masyarakat yang terdampak gempa.
Baca Juga: Jelang HUT ke-81 RI, Indonesia Ekspor 1.000 Ton Beras Premium ke Malaysia Untuk menjangkau wilayah yang terisolasi, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) mengerahkan kapal pencarian dan pertolongan atau SAR dari Maumere.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Kelas A Kupang Mexianus Bekabel mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Kantor Basarnas Maumere mengenai penanganan dampak gempa di sejumlah wilayah Flores.
"Untuk kejadian di Maumere masih bisa diatasi. Namun, yang terisolasi di Mbay, Kabupaten Nagekeo," kata Mexianus.
Menurut Mexianus, satu kapal SAR dari Maumere telah diberangkatkan menuju Mbay pada pukul 10.15 Wita.
Kapal tersebut dikerahkan untuk membantu proses penanganan di wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Basarnas Kupang juga menyiapkan Kapal SAR Antareja apabila dibutuhkan untuk memperkuat operasi pencarian dan pertolongan.
"Kami SAR Kupang telah menyiapkan satu kapal Antareja. Apabila dibutuhkan, kami juga sudah siapkan sejumlah peralatan pendukung lainnya," ujar Mexianus.
Gubernur NTT Melki Laka Lena mengatakan informasi mengenai terputusnya akses menuju Nagekeo diterima pemerintah dari Kepala Balai Jalan.
"Ada beberapa titik jalan yang terputus menuju arah Nagekeo. Jalur ke Ende-Nagekeo juga putus. Begitu juga Ende ke Maumere juga putus," kata Melki.