ACEH BESAR – Puncak musim kemarau yang melanda Kabupaten Aceh Besar mulai berdampak pada kehidupan masyarakat.
Selain menyebabkan ribuan hektare lahan pertanian mengalami kekeringan, pasokan air bersih di Kecamatan Pekan Bada juga mulai mengalami krisis.
Pantauan di lapangan menunjukkan sejumlah lahan pertanian tampak kering.
Baca Juga: Pansus DPRD Batu Bara Soroti Kewajiban Kebun Plasma 20 Persen, HGU PT Socfindo Tanah Gambus Jadi Perhatian Tanah sawah mulai retak akibat minimnya pasokan air, sementara warga kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Salah seorang warga Pekan Bada, Pak Tarjo, mengatakan pasokan air bersih dari PDAM Tirta Montala tidak lagi mencukupi kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, sumber air yang melayani Kecamatan Darul Imarah dan Pekan Bada berasal dari Mata Ie yang debit airnya terus menurun akibat kemarau.
"Air Bersih yang di salurkan oleh PDAM Tirta Montala sudah tidak mencukupi, sumber air PDAM untuk Kecamatan Darul Imarah dan Pekan Bada adalah dari Mata Ie (Mata Air) yang kini debet air nya berkurang, sehingga warga Pekan Bada yang di ujung air nya mengecil dan harus menunggu air dari pukul 00.00 dinihari sampai pukul 05.00 subuh itu pun tidak mencukupi, karena air yang masuk tidak sempurna," kata Pak Tarjo.
Kondisi serupa juga dirasakan Edi Rahmadi, warga Lam Lumpu, Kecamatan Pekan Bada.
Ia mengaku sudah hampir sepekan harus begadang setiap malam demi menunggu air mengalir ke rumahnya.
"Sudah seminggu begadang menunggu datang nya air PAM, air hanya cukup untuk ber Wudhu'," ujarnya.
Warga berharap Pemerintah Kabupaten Aceh Besar bersama PDAM Tirta Montala segera mengambil langkah darurat untuk mengatasi persoalan tersebut.
Salah satu solusi yang diusulkan masyarakat adalah pembangunan sumur bor di sejumlah titik di Kecamatan Pekan Bada agar kebutuhan air bersih tetap terpenuhi selama musim kemarau.