JAKARTA – Pemadaman listrik massal atau blackout yang sempat melanda sejumlah wilayah di Sumatera pada pertengahan Mei 2026 kembali menyoroti kerentanan sistem kelistrikan nasional di tengah meningkatnya variabilitas cuaca akibat perubahan iklim.
Pengamat sistem tenaga listrik dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Kevin Marojahan Banjar Nahor, menilai gangguan pada jaringan interkoneksi tidak bisa dilepaskan dari faktor lingkungan yang semakin tidak stabil.
Menurut dia, infrastruktur transmisi tegangan tinggi sangat sensitif terhadap perubahan temperatur, angin, curah hujan, hingga kelembapan udara.
Baca Juga: Prabowo Pulang dari Prancis Bawa Kesepakatan Rp61 Triliun, Ini Rinciannya "Dalam sistem tenaga modern, kondisi cuaca menjadi salah satu parameter penting yang diperhitungkan dalam pengoperasian jaringan transmisi," kata Kevin dalam keterangan tertulis, Sabtu, 30 Mei 2026.
Ia menjelaskan, perubahan pola iklim membuat variabilitas cuaca semakin dinamis dan sulit diprediksi.
Kondisi ini menuntut operator sistem tenaga listrik untuk memperhitungkan lebih banyak dynamic operating condition dalam menjaga stabilitas jaringan interkoneksi berskala besar seperti di Sumatera.
"Perubahan iklim tidak selalu berarti satu kejadian ekstrem langsung menyebabkan gangguan sistem. Namun variabilitas cuaca yang meningkat dapat menambah tantangan dalam pengoperasian jaringan transmisi," ujarnya.
Kevin menambahkan, gangguan pada sistem interkoneksi bersifat probabilistik dan umumnya tidak dipicu oleh satu faktor tunggal, melainkan kombinasi berbagai faktor yang terjadi secara bersamaan.
Dalam kondisi tertentu, gangguan lokal bahkan dapat berkembang menjadi gangguan berantai (cascading disturbance) yang berujung pada blackout.
Ia menyebut sistem proteksi otomatis pada jaringan listrik memang dirancang untuk mencegah kerusakan lebih besar pada pembangkit maupun transmisi.
Namun, semakin besar skala interkoneksi, semakin tinggi pula kompleksitas pengelolaannya.
"Ketika kestabilan sistem terganggu, sistem proteksi akan bekerja otomatis untuk mencegah risiko kerusakan yang lebih besar sembari mencegah blackout total," kata dia.