JAYAWIJAYA - Bentrok antarkelompok warga di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, kembali menelan korban jiwa dalam jumlah besar.
Sedikitnya 13 orang dilaporkan tewas dan 19 lainnya mengalami luka-luka akibat perang suku yang terjadi sejak Kamis (14/5) dan meluas hingga Jumat (15/5).
Kepolisian Resor Jayawijaya mencatat, dari total korban luka, tiga orang di antaranya mengalami luka berat, sementara 16 lainnya luka ringan.
Baca Juga: Di Hadapan Negara BRICS, Menlu Sugiono Soroti Gugurnya 4 Prajurit TNI di Lebanon Seluruh korban saat ini masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wamena.
"Berdasarkan data update terbaru korban perang suku yang meninggal dunia 13 orang," kata Kepala Seksi Humas Polres Jayawijaya, Ipda Efendi Al Husaini, kepada wartawan, Minggu (17/5).
Selain korban jiwa dan luka, bentrokan juga menyebabkan gelombang pengungsian besar.
Total 789 warga dilaporkan mengungsi, terdiri dari 298 anak-anak, 122 lansia, serta 315 laki-laki dan 476 perempuan.
Aparat masih melakukan pendataan terhadap kerusakan bangunan yang diduga dibakar maupun dirusak saat konflik berlangsung.
Bentrok melibatkan dua kelompok masyarakat, yakni Suku Pirime (Lanny) dan Suku Kurima (Woma).
Konflik awal terjadi di Distrik Woma, kemudian meluas ke sejumlah titik lain di wilayah Jayawijaya.
Kapolda Papua, Irjen Patrige R. Renwarin, menyebutkan bahwa akar konflik berasal dari persoalan lama yang kembali memanas, yakni terkait denda adat pascakecelakaan lalu lintas pada 2024 yang menewaskan seorang anggota DPRD Lanny Jaya.
"Konflik berawal dari pertikaian lama yang kembali memanas akibat persoalan denda adat," ujar Patrige.