PIDIE JAYA – Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Pidie Jaya, Selasa (7/4/2026) malam, mengakibatkan 13 desa di dua kecamatan terendam banjir dengan ketinggian air antara 40 hingga 70 sentimeter.
Banjir juga mengganggu akses jalan lintas nasional Medan-Banda Aceh, khususnya di Desa Meunasah Krueng, Kecamatan Meureudu, yang menjadi titik terparah.
Komandan Korem (Danrem) 011/Lilawangsa, Brigjen TNI Ali Imran, segera mengerahkan personel TNI dari Kodim 0102/Pidie dan Yon TP 857/GS untuk membantu warga terdampak.
Baca Juga: TP PKK Sumut Lakukan Supervisi Desa dan Kelurahan, Perkuat Implementasi 10 Program Pokok Wujudkan Indonesia Emas 2045 "Personel TNI bersiaga di lokasi untuk mengatur arus lalu lintas, membersihkan material banjir, dan memantau debit air secara berkala guna mengantisipasi potensi cuaca ekstrem susulan," ujarnya.
Brigjen Ali Imran menambahkan, jalan lintas Medan-Banda Aceh di Meunasah Krueng belum bisa dilalui kendaraan roda dua maupun empat.
Namun, truk dan mobil besar masih dapat melintas dengan hati-hati.
Sementara itu, Dandim 0102/Pidie, Letkol Inf Abdul Hadi, mengimbau warga tetap waspada dan mencari lokasi aman jika debit air meningkat.
Ia menekankan pentingnya normalisasi sungai sebagai antisipasi banjir susulan.
"Pendangkalan sungai pascabanjir bandang sebelumnya membuat Krueng Meureudu tidak mampu menampung volume air hujan dari pegunungan. Pemerintah perlu segera melakukan normalisasi, menutup aliran sungai baru, serta membersihkan saluran air dan sisa lumpur di area permukiman," ujarnya.
Daftar Desa Terdampak (Ketinggian Air):
Kecamatan Meurah Dua: Pante Beurne (70 cm), Dayah Husen (50 cm), Meunasah Mancang (50 cm), Meunasah Raya (70 cm), Meunasah Bie (50 cm), Beuringin (60 cm), Geunteng (60 cm).
Kecamatan Meureudu: Meunasah Lhok (70 cm), Beurawang (60 cm), Mayang Cut (50 cm), Meunasah Krueng (70 cm), Manyang Lancok (50 cm), Masjid Tuha (40 cm).