JAKARTA – Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, menyoroti sejumlah kendala utama dalam penanganan pascabencana di wilayah dataran rendah Sumatra.
Menurut Tito, lumpur dan tumpukan kayu menjadi hambatan signifikan bagi pemulihan infrastruktur dan akses logistik.
"Lumpur ini menjadi problem yang paling utama di lowland. Kami sudah merekap titik-titik kritis, jumlahnya lebih kurang 445 di tiga provinsi. Yang sudah diselesaikan totalnya 84%, tinggal 16% lagi," ujar Tito saat konferensi pers di Kantor KSP, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (25/3).
Baca Juga: PDIP Tegaskan DPR Berhak Panggil Pemerintah dan TNI Selidiki Dugaan Keterlibatan Intelijen dalam Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus Selain lumpur, Tito menekankan penanganan sungai sebagai tantangan paling berat yang membutuhkan waktu panjang.
"Sungai ini paling berat dan perlu waktu lama, paling cepat 2 tahun, bisa sampai 3 tahun. Sungai yang dikerjakan Pusat ada 79, sedangkan Daerah 43," ungkapnya.
Tito menambahkan bahwa sedimen yang menumpuk di sungai berpotensi menimbulkan banjir susulan bila tidak segera dibersihkan.
Tito juga mengingatkan banyaknya tumpukan kayu yang terbawa banjir menjadi kendala tambahan di sejumlah wilayah terdampak, seperti Aceh Tamiang, Longkib, dan Desa Garoga, Tapanuli.
Menurutnya, kayu ini dapat dimanfaatkan untuk pembangunan hunian sementara maupun hunian tetap setelah mendapat izin dari Kementerian Kehutanan.
Meski menghadapi kendala, Tito memastikan akses logistik mulai pulih, khususnya di jalur utama.
"Jalan nasional sudah 100% bisa dilalui, meskipun beberapa titik belum bisa dilalui truk besar. Jalan daerah Aceh baru 92%, Sumut 98%, Sumbar 91%. Jembatan nasional 100%, namun beberapa masih temporer," jelas Tito.
Tito menutup pernyataannya dengan mengapresiasi kerja keras TNI, Polri, dan pemerintah daerah dalam memulihkan infrastruktur dan memastikan bantuan logistik tersalurkan dengan baik.*