BATU BARA — Di Kelurahan Labuhan Ruku, Kecamatan Talawi dan Tanjung Tiram, Kabupaten Batu Bara, air bersih dari PDAM Tirta Tanjung Tiram tampaknya memiliki jadwal kerja sendiri.
Ia tidak datang pagi atau siang seperti kebutuhan manusia pada umumnya, melainkan baru muncul sekitar pukul 22.00 WIB.
Akibatnya, warga harus menyesuaikan pola hidup.
Baca Juga: Miliaran Anggaran untuk Pipa Air, Warga Labuhan Ruku Masih Harus Menunggu Air Tengah Malam Jika biasanya malam adalah waktu beristirahat, bagi sebagian warga Labuhan Ruku malam justru menjadi waktu berjaga—menunggu air mengalir.
Jika tertidur, berarti siap-siap tidak mendapat air.
"Airnya baru hidup malam. Kalau tidak ditunggu, ya tidak dapat air. Padahal ini kebutuhan utama," kata seorang warga.
Pemandangan warga menunggu air hingga larut malam kini menjadi rutinitas yang dianggap biasa. Dalam situasi tertentu, warga bahkan merasa seperti menjalankan sistem shift malam—bedanya, mereka tidak digaji, hanya berharap dapat air.
Ironinya, pemerintah daerah sebelumnya disebut telah menggelontorkan anggaran hingga miliaran rupiah untuk pembangunan jaringan pipa air bersih. Angka yang cukup besar untuk ukuran sebuah proyek pelayanan dasar.
Namun di lapangan, hasilnya masih sulit dibedakan antara proyek bernilai miliaran dengan instalasi pipa seadanya. Air tetap datang larut malam, dan warga tetap harus berjaga.
Situasi ini membuat warga mulai mempertanyakan satu hal sederhana: jika anggarannya miliaran rupiah, mengapa hasilnya masih seperti ini?
"Kalau anggaran sudah miliaran tapi air tetap tidak lancar, masyarakat pasti bertanya. Jangan-jangan ada yang tidak beres," ujar warga lainnya.
Kecurigaan semacam ini muncul karena hingga kini distribusi air dari PDAM Tirta Tanjung Tiram masih sering tidak stabil.