BATU BARA – Keluhan terhadap pelayanan air bersih kembali muncul di Kelurahan Labuhan Ruku, Kecamatan Tanjung Tiram, Kabupaten Batu Bara.
Warga di Jalan Imam Bonjol menyebutkan, air dari PDAM Tirta Tanjung Tiram baru mengalir sekitar pukul 22.00 WIB. Kondisi ini membuat masyarakat terpaksa menunggu hingga larut malam hanya untuk mendapatkan air bersih.
Bagi sebagian warga, rutinitas tersebut telah berlangsung cukup lama dan menjadi beban tersendiri dalam kehidupan sehari-hari. "Jam 10 malam itu waktu orang beristirahat, bukan waktu menunggu air hidup. Tapi kalau tidak ditunggu, kami tidak dapat air," ujar seorang warga. Persoalan ini semakin menimbulkan pertanyaan ketika masyarakat mengingat bahwa beberapa tahun lalu pemerintah daerah disebutkan telah mengalokasikan anggaran miliaran rupiah untuk pembangunan dan pemasangan jaringan pipa air bersih.
Baca Juga: Diduga Makanan Program MBG di SD Negeri 01 Labuhan Ruku Tidak Sesuai Standar Gizi Namun, hasil yang dirasakan hingga kini dinilai belum sebanding dengan besarnya anggaran yang dikeluarkan.
"Kalau anggaran miliaran sudah dikeluarkan untuk jaringan pipa, kenapa air masih mengalir tengah malam? Wajar kalau masyarakat mulai bertanya-tanya," kata warga lainnya. Sebagai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), PDAM Tirta Tanjung Tiram seharusnya mampu memberikan pelayanan dasar yang stabil kepada masyarakat.
Air bersih bukan sekadar fasilitas tambahan, melainkan kebutuhan vital yang memengaruhi kesehatan, sanitasi, dan kualitas hidup warga. Di sejumlah daerah lain di Sumatera Utara, pelayanan air bersih relatif lebih stabil.
Contohnya, pelayanan yang dikelola oleh PDAM Tirtanadi di Medan, yang pada banyak wilayah telah menerapkan distribusi air hampir sepanjang hari dengan sistem jaringan tekanan yang lebih terkontrol
Di beberapa kota lain di Indonesia, seperti Surabaya yang dikelola oleh PDAM Surya Sembada, distribusi air bahkan dilakukan selama 24 jam dengan pengawasan jaringan dan sistem reservoir yang lebih modern. Perbandingan ini membuat sebagian warga Labuhan Ruku mempertanyakan efektivitas pengelolaan sistem distribusi air di wilayah mereka.
Sejumlah warga menilai pemerintah daerah perlu melakukan evaluasi serius terhadap kinerja PDAM, termasuk melakukan audit terhadap penggunaan anggaran serta memperbaiki sistem distribusi agar pelayanan tidak terus merugikan masyarakat. "Air bersih itu kebutuhan dasar. Kalau pelayanannya seperti ini terus, masyarakat berhak menuntut penjelasan," kata seorang warga. Masyarakat berharap Bupati Batu Bara turun langsung mengevaluasi kinerja PDAM Tirta Tanjung Tiram agar pelayanan air bersih di wilayah tersebut dapat berjalan normal dan tidak lagi memaksa warga menunggu hingga larut malam hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.*
(ad)