JAKARTA — Pecinta astronomi berkesempatan menyaksikan puncak hujan meteor Alpha Centaurid pada Minggu malam, 8 Februari 2026.
Fenomena langit ini dapat diamati dengan mata telanjang, selama cuaca cerah dan lokasi pengamatan jauh dari polusi cahaya.
Hujan meteor Alpha Centaurid telah aktif sejak 28 Januari 2026 dan diperkirakan berlangsung hingga 21 Februari 2026.
Baca Juga: Jelang Ramadhan 1447 H, Satgas Saber Pangan Polda Bali Gelar Sidak ke Pasar dan Distributor, Harga Bahan Pokok Masih Stabil Puncak aktivitasnya terjadi menjelang fase kuartal ketiga Bulan, sehingga cahaya Bulan relatif tidak terlalu terang dan kondisi langit cukup ideal untuk pengamatan.
Dari wilayah Jakarta dan sekitarnya, titik radian hujan meteor berada di rasi Centaurus, yang mulai terbit di ufuk timur sekitar pukul 21.54 WIB.
Fenomena ini dapat disaksikan hingga menjelang fajar, sekitar pukul 05.32 WIB, dengan waktu terbaik pengamatan pada dini hari sebelum Matahari terbit.
Menurut pakar astronomi dari Star Walk Space, hujan meteor Alpha Centaurid pada puncaknya mampu menghasilkan sekitar 20 hingga 30 meteor per jam.
Meteor-meteor tersebut dikenal bergerak cepat dan meninggalkan jejak cahaya terang di langit malam.
Secara geografis, titik radian Alpha Centaurid bersifat hampir circumpolar di Belahan Bumi Selatan, sehingga fenomena ini dapat diamati lebih lama di wilayah seperti Australia, Selandia Baru, Afrika bagian selatan, dan Amerika Selatan.
Di kawasan tersebut, pengamatan optimal biasanya dilakukan setelah tengah malam ketika radian berada lebih tinggi di langit.
Hujan meteor ini berasal dari rasi Centaurus, kawasan langit yang juga dikenal sebagai lokasi Alpha Centauri, bintang terdekat dengan Matahari.
Titik radian hujan meteor berada sekitar empat derajat barat laut dari bintang Hadar (Beta Centauri).