TAPANULI SELATAN ,SUMATERA UTARA – Hujan deras yang melanda wilayah Tapanuli Selatan pada akhir November 2025 membawa bencana tak terduga bagi para petani.
Banjir bandang dan tanah longsor meluluhlantakkan sawah-sawah, meninggalkan tumpukan lumpur, pasir, batu, dan kayu gelondongan yang menenggelamkan harapan musim tanam awal 2026.
Di Sipirok, Kecamatan yang terdampak paling luas, sawah yang semula menjadi sumber kehidupan kini tak bisa lagi ditanami.
Baca Juga: TNI AD Rampung Bangun 17 Jembatan Bailey Pascabanjir Sumatera, Akses Warga Kembali Normal Bahkan bendungan dan saluran irigasi di berbagai titik ikut rusak parah, memperparah krisis pertanian di daerah itu.
"Ini bukan cuma soal padi hilang, tapi sumber penghidupan kami," kata salah seorang warga yang terdampak. "Kalau sawah tidak bisa ditanami, bagaimana kami bertahan hidup?"
Dampak banjir bandang tidak hanya terasa di Sipirok.
Kecamatan Sayur Matinggi, Batang Angkola, Angkola Muaratais, dan Batangtoru juga mengalami kerusakan signifikan.
Total luas sawah terdampak mencapai 536 hektare di 36 desa dan kelurahan, dengan Sipirok mencatat wilayah terparah, sekitar 249 hektare.
Plt Kepala Dinas Pertanian Tapanuli Selatan, Taufik Batubara, menyebut keterbatasan pemerintah daerah dalam penanganan pascabanjir.
"Untuk pengerukan material banjir dibutuhkan alat berat, dan kami tidak punya. Saat ini, kami hanya bisa melaporkan ke Kementerian Pertanian. Mereka sudah turun langsung meninjau," ujarnya.
Meski demikian, semangat warga tetap menyala.
Wajah lelah namun tegar, para petani berharap sawah bisa kembali hijau dan musim tanam tetap bisa dijalankan.