TAPANULI SELATAN — Lebih dari sebulan setelah banjir dan longsor melanda kawasan pegunungan Kecamatan Arse, Desa Dalihan Natolu masih terjebak dalam kegelapan dan keterisolasian.
Dusun Tanoponggol, salah satu dari tiga kampung penyusun desa itu, hingga kini belum menikmati kembali aliran listrik setelah Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) rusak diterjang bencana pada akhir November 2025.
Ketika matahari terbenam di lereng perbatasan Tapanuli Selatan dan Padang Lawas Utara, Desa Dalihan Natolu seolah menghilang dari peta.
Baca Juga: Dugaan Alih Fungsi Hutan, Ketua Lembaga Adat Laporkan PT PLS dan Kepala Desa Mosa Gunung Baringin ke Kejagung RI Tanpa listrik, tanpa penerangan, dan dengan akses jalan yang rusak berat, kehidupan warga berjalan dalam kesunyian yang panjang.
Desa ini berada di ketinggian sekitar 1.109 meter di atas permukaan laut dan dihuni 256 jiwa.
Lokasinya yang terpencil membuat Dalihan Natolu hanya bisa dijangkau melalui jalur sepanjang 33 kilometer dari ibu kota Kecamatan Arse, dengan kondisi jalan berbatu dan licin.
Kendaraan roda dua hanya mampu mencapai Kampung Tanoponggol, sementara dua kampung lainnya, Nangguluon dan Aeknabara, harus ditempuh dengan berjalan kaki menyusuri jalur pegunungan.
Bencana yang datang pada akhir November lalu mengubah segalanya. Longsor merusak jalan utama dan menghantam pipa PLTMH yang selama ini menjadi satu-satunya sumber listrik warga.
Sejak itu, Dusun Tanoponggol tenggelam dalam gelap total.
Anak-anak kesulitan belajar ketika malam tiba. Aktivitas ekonomi lumpuh. Rasa aman ikut terkikis, karena kegelapan menghadirkan kecemasan baru di tengah desa yang terisolasi.
"Kalau malam, gelap total. Kami pakai lampu seadanya. Anak-anak susah belajar," ujar salah seorang warga yang meminta namanya tidak dituliskan.
Kasi Kesejahteraan Masyarakat Kecamatan Arse, Saprianto Hutasuhut, membenarkan bahwa kondisi desa masih belum pulih sepenuhnya.