MEDAN – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal akibat bencana hidrometeorologi berupa banjir bandang dan longsor di tiga provinsi Sumatra, yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, kini mencapai 1.178 jiwa per Selasa (6/1/2026).
Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB, Abdul Muhari, menyebutkan, jumlah pengungsi terus menurun, kini tercatat 242.174 jiwa.
Kabupaten/kota dengan jumlah pengungsi terbanyak berada di Aceh, yakni Aceh Tamiang (74.735 jiwa), Aceh Utara (67.876 jiwa), dan Gayo Lues (19.906 jiwa).
Baca Juga: DPD Lira Tabagsel Ungkap Dugaan Penggelapan Beras Bantuan Bencana di Angkola Barat, Warga Hanya Dapat Sebagian "Tim gabungan juga menemukan satu jenazah tambahan di Tapanuli Tengah," ujarnya dalam konferensi pers yang disiarkan melalui YouTube BNPB.
Distribusi korban per provinsi tercatat: Aceh 543 jiwa, Sumatera Utara 371 jiwa, dan Sumatera Barat 264 jiwa.
Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) masih berlangsung, seiring dengan fase tanggap darurat yang akan dievaluasi pada 8 Januari 2026, perpanjangan ketiga sejak bencana terjadi.
Muhari menjelaskan, Sumut dan Sumbar telah masuk ke fase transisi darurat, sedangkan di Aceh terdapat sembilan kabupaten/kota yang masih dalam fase perpanjangan tanggap darurat, sementara sembilan lainnya sudah beralih ke transisi darurat.
"Pergeseran dari tanggap darurat ke transisi darurat ini akan menjadi indikator mulai berlangsungnya fase pemulihan di seluruh wilayah terdampak," kata Muhari.
Proses pemulihan infrastruktur menunjukkan kemajuan signifikan. Sebanyak 1.693 alat berat telah dikerahkan di tiga provinsi: Aceh 1.004 unit, Sumatera Utara 346 unit, dan Sumatera Barat 343 unit.
Alat berat digunakan untuk pembersihan lokasi terdampak, pembukaan akses jalan, dan normalisasi sungai.
"Pendalaman alur sungai dilakukan di titik-titik yang sebelumnya menjadi sumber luapan saat hujan intensitas sedang hingga tinggi," jelas Muhari.
Selain itu, untuk pemasangan jembatan Bailey, sebanyak 12 unit telah terpasang dari total 27 unit.