TAPANULI SELATAN – Seruan agar pemerintah pusat turun tangan lebih kuat dalam penanganan bencana di Sumatera kembali menggema.
Sekretaris Persatuan dan Pemerhati Wartawan Angkola Sipirok (PERWASI) Tapanuli Selatan, Mahmuda Mora Siregar, menyampaikan langsung jeritan warga dari berbagai daerah terdampak di Sumatera Utara, Sumatera Barat, hingga Aceh, dan meminta Presiden Prabowo Subianto menetapkan bencana tersebut sebagai Bencana Nasional.
Di tengah tenda pengungsian dan reruntuhan bangunan, Mora Siregar menjadi salah satu suara yang lantang mengingatkan negara tentang kondisi rakyat yang kian terdesak.
Baca Juga: Kapolda Aceh Ceritakan Detik-Detik Menembus Aceh Tamiang: Seperti Tsunami Kedua, 85 Personel Belum Ditemukan "Ketika saya menatap mata mereka, saya melihat ketakutan sekaligus harapan. Mereka menunggu negara hadir lebih kuat," ujarnya, Rabu, (10/12/2025).
Ia mengatakan setiap hari menerima laporan dari titik bencana, termasuk Desa Garoga (Kecamatan Batangtoru) dan Desa Tandihat (Kecamatan Angkola Selatan) yang tanahnya retak dan membuat satu desa harus mengungsi.
Banjir bandang melumat berbagai desa di Kecamatan Sayurmatinggi, sementara longsor terjadi di Tano Tombangan Angkola.
Total 13 kecamatan di Tapanuli Selatan tercatat terdampak banjir dan longsor.
Mora menyebut dirinya menyaksikan sendiri luka batin masyarakat: orang tua yang kehilangan anak, petani yang kehilangan lahan, hingga lansia yang datang ke posko hanya dengan pakaian di tubuh.
"Ini bukan sekadar bencana kecil. Ini suara rakyat yang harus sampai ke pemerintah pusat," katanya.
Di banyak lokasi, warga masih mengingat peristiwa banjir bandang sebagai "detik-detik maut".
Sungai yang biasanya tenang berubah menjadi gelombang lumpur yang menghancurkan rumah dan jembatan.
Di perbukitan, longsor runtuh tanpa tanda, menimbun rumah yang telah berdiri puluhan tahun.