BANDA ACEH – Kapolda Aceh Irjen Pol Marzuki Ali Basyah mengungkap pengalaman paling berat dalam karier kepolisiannya saat menerobos wilayah Aceh Tamiang pascabencana Siklon Senyar, yang memicu banjir bandang dan longsor pada 1 Desember 2025.
Ia menyebut kondisi daerah itu ketika pertama kali dimasuki "nyaris seperti tsunami kedua".
"Sedih saya waktu itu. Tidak ada kekuatan yang bisa saya gerakkan karena anggota saya sendiri tidak ada. Semua terpecah, rumah tenggelam, kantor tenggelam," ujar Marzuki, Rabu, 10 Desember 2025.
Baca Juga: Negara Hadir untuk Korban Banjir, Sertifikat Tanah Bisa Diurus Ulang Gratis Marzuki mengatakan bencana terjadi ketika ia berada di Jakarta untuk mengikuti rapat bersama jajaran kapolres.
Dalam perjalanan pulang, ia melihat wilayah Aceh gelap gulita dari udara.
"Rabu malam air mulai naik di banyak daerah," katanya.
Jaringan internet putus, laporan dari 18 kabupaten dan kota terhambat, bahkan empat daerah, Aceh Utara, Aceh Timur, Langsa, dan Aceh Tamiang, tidak memberikan kabar apa pun hingga Kamis malam.
"Di situ saya stres. Tidak ada komunikasi. Tidak tahu kondisi pemerintahan," ujarnya.
Marzuki memerintahkan seluruh kapolres kembali ke wilayah masing-masing dengan segala cara, namun sebagian terhambat karena jalur dari arah Medan ikut terputus.
Ia kemudian menempuh perjalanan dari Banda Aceh menuju Aceh Tamiang dengan melewati jembatan putus, memobilisasi perahu, dan mengerahkan 850 personel.
"Saya bilang: jangan tunggu. Tembus. Kalau tidak, kita tidak tahu berapa banyak korban," katanya.
Saat memasuki Manyak Payed hingga pusat Aceh Tamiang, ia menemukan kota dalam keadaan lumpuh total.