ACEH UTARA – Desa Gedumbak, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, luluh lantak diterjang banjir bandang pekan lalu.
Dari sekitar 400 rumah warga, hanya 41 unit yang tersisa, sementara enam warga dilaporkan hilang dan hingga kini belum ditemukan.
"Saya sudah melihat kondisi desa dua hari lalu. Nyaris rata dengan tanah. Ada lokasi berubah menjadi lautan kayu beragam ukuran. Beberapa tumpukan hampir mencapai atap rumah warga," kata Anggota DPD asal Aceh, Sudirman Haji Uma, Minggu (7/12/2025).
Baca Juga: PWA Aceh Perkuat Layanan Sosial dan Pendidikan Anak Usia Dini di Birem Bayeun dan Kota Langsa Banjir membawa kayu dari hulu dan menumpuk di beberapa titik, menciptakan area seluas 150 hektare yang dipenuhi tumpukan kayu.
Warga setempat khawatir masih ada jenazah yang tertimbun di bawah kayu-kayu tersebut karena tercium bau menyengat di beberapa lokasi.
Kerusakan tidak hanya berupa fisik. Seluruh aktivitas warga lumpuh, listrik padam, jalan rusak, dan akses air bersih tidak tersedia.
Tenda pengungsian yang disiapkan pun disebut tidak mencukupi kebutuhan warga. Beberapa warga dilaporkan mengalami gangguan kulit akibat penggunaan air yang tidak layak.
Haji Uma memperkirakan proses pemulihan desa ini bisa memakan waktu hingga 10 tahun, mengingat luasnya kerusakan dan jumlah rumah yang hancur.
"Kondisi ini sungguh memprihatinkan. Pemulihan akan membutuhkan waktu lama dan bantuan dari berbagai pihak," ujarnya.
Bencana banjir Aceh kali ini tidak hanya merusak rumah, tapi juga mengancam keselamatan warga dan memporak-porandakan infrastruktur vital.
Pemerintah daerah bersama pusat diminta segera menyalurkan bantuan darurat dan memprioritaskan evakuasi serta pemulihan fasilitas publik.*