BENER MERIAH – Lebih dari sepekan setelah banjir bandang dan longsor melanda Kabupaten Bener Meriah, Aceh, sebanyak 46.611 warga masih terisolasi.
Akses darat yang terputus total membuat distribusi logistik tersendat, sementara sejumlah warga terpaksa berjalan kaki berjam-jam untuk mencari bantuan.
Kepala Dinas Kominfo Bener Meriah, Ilham Abdi, mengatakan kondisi darurat semakin mendesak karena kebutuhan dasar mulai menipis.
Baca Juga: Kementerian PU Percepat Pemulihan Infrastruktur Jalan Nasional di Aceh Pascabanjir Bandang "Penyaluran bantuan yang idealnya melalui jalur darat kini menghadapi tantangan besar. Di beberapa titik, warga harus berjalan kaki sambil memikul logistik untuk dibawa ke kampung mereka," ujar Ilham, Sabtu, 6 Desember 2025.
Ruas jalan vital yang menghubungkan Bener Meriah dengan Aceh Utara dan Bireuen melalui jalur KKA masih terputus.
Hal ini menyebabkan pasokan pangan, bahan bakar, susu bayi, dan selimut semakin menipis.
"Kami sangat khawatir dengan ketersediaan makanan. Beberapa wilayah sudah kesulitan mendapatkan barang kebutuhan dasar," kata Ilham.
Menurut Ilham, tim gabungan dari berbagai instansi kini memfokuskan penanganan pada pembukaan akses dan pembangunan jembatan darurat (Bailey).
Tumpukan material longsor berupa pohon tumbang dan lumpur tebal masih menghalangi sejumlah ruas.
"Prioritas utama adalah keselamatan warga dan memastikan seluruh wilayah terdampak dapat segera dijangkau bantuan," katanya.
Berikut wilayah dengan tingkat isolasi terparah:- Kecamatan Pintu Rime Gayo: 23 desa, 17.138 jiwa- Kecamatan Gajah Putih: 10 desa, 10.396 jiwa- Kecamatan Mesidah: 15 desa, 6.325 jiwa- Kecamatan Syiah Utama: 14 desa, 2.799 jiwa- Kecamatan Permata: 7 desa, 6.024 jiwa- Kecamatan Timang Gajah: 4 desa, 3.939 jiwa
Pemerintah daerah berharap akses utama dapat segera terbuka agar bantuan logistik bisa masuk dan aktivitas warga dapat pulih secara bertahap.*