PADANGSIDIMPUAN — Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Kota Padangsidimpuan memasuki pekan kedua tanpa kejelasan penyebab.
Di tengah bencana banjir bandang dan longsor yang menimpa wilayah Tabagsel, warga justru harus menghadapi antrean panjang di SPBU dan menjamurnya penjual BBM eceran dengan harga melambung hingga tiga kali lipat dari Harga Eceran Tetap (HET).
Pantauan selama tiga hari terakhir, antrean kendaraan roda dua hingga empat mengular di sejumlah SPBU, bahkan sebagian warga memilih begadang untuk mendapatkan Pertalite maupun Pertamax.
Baca Juga: Bahlil Cabut Aturan Barcode Pembelian BBM di Aceh–Sumut–Sumbar untuk Atasi Kelangkaan Aktivitas belajar siswa ikut terganggu lantaran orang tua harus ikut mengantre sepanjang malam.
"Sudah seperti daerah pedalaman yang tidak bisa dimasuki distribusi BBM. Mau sekolah saja susah karena orang tua harus antre minyak," ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya, Rabu, 3 Desember 2025.
Sejak dua hari terakhir, penjualan BBM eceran kembali marak di pinggir jalan Kota Padangsidimpuan.
Harga yang ditawarkan mencapai Rp 25 ribu hingga Rp 35 ribu per liter, jauh di atas HET.
Padahal, sebelumnya Kasat Reskrim Polres Padangsidimpuan, AKP Hasiholan Naibaho, telah menegaskan pihaknya siap menindak penjual BBM eceran yang menjual di atas harga resmi.
"Pengecer yang menjual di atas HET akan kami tindak dan kami tangkap setelah berkoordinasi dengan dinas terkait," ucap Hasiholan pada 28 November.
Namun kondisi di lapangan menunjukkan pelanggaran terus terjadi dan tidak ada tindakan tegas yang terlihat.
Sejumlah warga mempertanyakan absennya tindakan cepat pemerintah dan aparat di tengah situasi darurat bencana.
"Masyarakat sudah kesusahan banjir, longsor, air PDAM mati total, sekarang minyak pun langka. Apa kerja pemerintah dan aparat? Siapa yang bertanggung jawab?" kata seorang warga yang ikut mengantre BBM lebih dari lima jam.